Info Event - COMICOS & APPRREN International Joint Conference 2026 dengan tema “Enhancing Social Cohesion in Networked Societies through Communication, Media, PR, and Sociology Perspectives” telah dimulai 9 Februari 2026. Acara ini diikuti oleh peserta dari 15 negara di dunia, termasuk wilayah Asia dan Eropa. Terdapat 196 abstrak terpilih untuk dipresentasikan dalam konferensi dari 246 abstrak yang mendaftar.
Dalam kesempatan ini Tempo hadir mewakili perspektif media di Indonesia untuk memaparkan strateginya dalam memperkuat kohesi sosial 10 Februari 2026.
CEO Tempo Digital, Wahyu Dhyatmika, M.A., memaparkan sebuah paradigma baru yaitu mengubah peran media dari sekadar penyiar berita (broadcaster) menjadi fasilitator dialog sosial.
Wahyu memperkenalkan program Tempo Witness, yang menjalin kolaborasi strategis dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk memberikan kedaulatan informasi bagi komunitas adat. Program ini memberikan akses eksklusif aplikasi pelaporan kepada para pemimpin adat, mengubah status mereka dari sekadar ‘objek berita’menjadi subjek aktif yang memproduksi konten.
Selain pemberdayaan warga, Tempo juga membangun ekosistem media yang berkelanjutan melalui Teras.id. Saat ini, platform tersebut telah merangkul 30 media lokal untuk memperluas perspektif pemberitaan sehingga tak ada daerah yang tertinggal. Langkah strategis ini menggeser fokus media dari sekadar penyampai informasi menjadi penyedia konten yang menjawab kebutuhan spesifik pembacanya di setiap daerah.
Tempo juga berkolaborasi untuk menghadirkan kanal CekFakta yang menjadi media pemeriksaan fakta pertama di Indonesia. Wahyu menegaskan perlunya reorientasi peran media massa untuk menjadi “perekat sosial” guna meredam tajamnya polarisasi di era digital.
Iklan
Wahyu menekankan di tengah ekosistem informasi yang semakin terfragmentasi, media harus berani kembali ke fungsi dasarnya sebagai pilar demokrasi yang kredibel.
“Media perlu kembali ke fungsi dasarnya: memverifikasi fakta, memberdayakan berbagai suara (terutama yang terpinggirkan), dan memastikan ekosistem media tetap berkelanjutan,” ujarnya.
“Kita harus beralih dari model bisnis yang didorong oleh atensi semata dan mulai membangun kepercayaan sebagai modal terbesar kita,” kata Wahyu dalam pemaparannya di COMICOS & APPRREN International Joint Conference 2026.
Di tengah ancaman perpecahan akibat algoritma media sosial, Wahyu menegaskan media massa harus bertransformasi menjadi fasilitator dialog, bukan sekadar penyiar berita. Inti dari strategi ini adalah meninggalkan model bisnis berbasis impression (jumlah klik) yang sering kali terjebak dalam pusaran polarisasi, menuju ekosistem yang berpusat pada kebutuhan audiens. (*)

















































