EMPAT tentara Israel, termasuk seorang komandan batalyon, tewas dalam serangan yang diduga dilakukan Hizbullah di Libanon selatan. Insiden ini memicu serangan balasan besar-besaran Israel dan berdampak pada proses diplomasi yang tengah berlangsung terkait implementasi kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Militer Israel pada Jumat, 19 Juni 2026, mengumumkan bahwa salah satu korban tewas adalah Letnan Kolonel Dor Gedalia Ben Simhon, 32 tahun, komandan Batalyon 52 "The Breachers" dari Brigade Lapis Baja 401 "Iron Tracks". Tiga prajurit lainnya yang turut tewas belum dipublikasikan identitasnya karena masih menunggu persetujuan keluarga seperti dilansir New York Post.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut laporan awal yang dikutip media Israel, para tentara tersebut tewas ketika sebuah drone bermuatan peledak menghantam tank Merkava yang ditumpangi Ben Simhon di Libanon selatan.
Beberapa jam setelah insiden tersebut, lima tentara Israel lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan terpisah di kawasan yang sama seperti dilansir Times of Israel.
Insiden itu menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap pasukan Israel dalam beberapa bulan terakhir dan memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Sumber militer Israel menyebut serangan drone tersebut sebagai salah satu pelanggaran paling serius terhadap gencatan senjata. Pejabat Israel mengatakan serangan terhadap tank komandan batalyon itu membuat militer mereka tidak memiliki pilihan selain melancarkan respons militer terhadap posisi-posisi Hizbullah.
Setelah serangan tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan gelombang serangan udara dan artileri ke sejumlah lokasi di Libanon selatan yang diklaim sebagai infrastruktur Hizbullah.
Serangan balasan Israel itu dilaporkan menewaskan sedikitnya belasan warga Libanon dan memicu kecaman dari sejumlah negara, termasuk Prancis, yang mendesak Israel menghormati komitmen penghentian permusuhan di Libanon.
Perkembangan ini juga berdampak pada upaya diplomatik antara Washington dan Teheran. Iran membatalkan rencana pengiriman delegasi ke Swiss untuk mengikuti pembicaraan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman perdamaian AS-Iran yang ditandatangani pekan ini.
Media Israel melaporkan Teheran menilai operasi militer Israel di Libanon bertentangan dengan semangat kesepakatan yang mengharuskan penghentian permusuhan di seluruh kawasan.
Pembatalan itu terjadi setelah Gedung Putih lebih dahulu mengumumkan bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menunda kunjungannya ke Swiss. Vance sebelumnya dijadwalkan memimpin pembicaraan teknis mengenai pelaksanaan nota kesepahaman yang menjadi dasar negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran selama 60 hari ke depan.
Militer Israel menyatakan penyelidikan atas serangan drone yang menewaskan Ben Simhon dan tiga prajurit lainnya masih berlangsung. Informasi tambahan mengenai kronologi serangan dan identitas korban lainnya akan diumumkan setelah proses investigasi selesai.
















































