Mengapa Fraud Gift Card Sulit Terdeteksi?

2 hours ago 2

MANIPULASI gift cardvoucher kartu prabayar berisi saldo—semakin marak seiring pesatnya pertumbuhan sektor pembayaran digital dan e-commerce di Indonesia. Praktik penipuan ini diam-diam menggerus pendapatan peritel, bank, dan platform loyalitas tanpa mudah terdeteksi.

Zentara Technologies, perusahaan keamanan siber yang berbasis di Jakarta dan Singapura, mengangkat persoalan ini dalam Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. Dalam forum tersebut, Zentara memaparkan berbagai skema penipuan yang mengeksploitasi produk bernilai tersimpan atau stored-value products di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem. Sebaliknya, ia menyamar hingga tampak sepenuhnya normal,” kata CEO Zentara, Regal Star, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 16 Juni 2026.

Regal menyebut, banyak perusahaan masih berharap fraud akan terdeteksi dan memicu alarm keamanan standar. Namun fraud seperti gift card sulit terdeteksi karena transaksinya terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari. “Sistemnya tidak dibobol, sistem itu justru digunakan untuk melawan bisnis itu sendiri,” tutur dia.

Modus penipuan gift card, menurut peninjauan Zentara, kini lebih banyak memanfaatkan proses bisnis yang sah dibanding membobol sistem. Pelaku mengeksploitasi berbagai tahapan dalam siklus hidup gift card, mulai dari produksi, aktivasi, hingga penukaran.

Salah satu modus yang ditemukan adalah pengambilan rincian kartu dari gift card yang dipajang di rak ritel. Setelah kartu diaktivasi oleh pembeli, pelaku dapat mengakses dananya tanpa menimbulkan kecurigaan. Akhirnya dana yang seharusnya diterima penerima hadiah hilang, sementara peritel, bank, maupun pembeli tidak menyadari adanya pelanggaran. Kondisi tersebut juga menimbulkan anomali data.

Populer Namun Rapuh

Industri gift card di Indonesia sendiri tengah berkembang pesat. Berdasarkan "Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook", nilai pasar gift card nasional mencapai US$ 2,37 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 9,1 persen hingga mencapai sekitar US$3,68 miliar pada 2030.

Di tingkat global, nilai pasar gift card diperkirakan menembus US$ 1,2 triliun per tahun. Pertumbuhan penggunaan gift card, voucher digital, dan program loyalitas mendorong organisasi untuk meningkatkan perlindungan terhadap aset pelanggan dan sistem pembayaran mereka.

Zentara mencatat sebagian besar kasus fraud gift card tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan. Kondisi tersebut membuat kerugian pendapatan sulit diidentifikasi, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara yang terus meningkat. Laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain mencatat nilai ekonomi digital kawasan mencapai US$ 263 miliar dalam gross merchandise value (GMV) pada 2024.

Riset perusahaan itu mengidentifikasi tiga metode penipuan yang kini berkembang secara global, yakni card draining yang memanfaatkan informasi kartu sebelum aktivasi, fraud identitas sintetis untuk memperoleh dan memonetisasi nilai tersimpan, serta serangan rekayasa sosial berbasis akal imitasi (AI) yang menyasar karyawan pengelola gift card.

“Alih-alih hanya berfokus pada kerentanan teknologi, fraud modern semakin mengeksploitasi proses bisnis dan perilaku manusia,” kata Regal.

Sulit Terdeteksi Sistem Lama

President dan Co-Founder Zentara Technologies, Darian Kuswanto. menilai masih banyak organisasi yang menggunakan pendekatan lama untuk mengukur risiko penipuan. “Salah kaprah yang umum adalah menyamakan keamanan dengan tidak adanya pelanggaran,” ucap Darian.

Kasus fraud paling signifikan, dia menjelas, justru sering lolos dari alarm konvensional karena meniru transaksi pelanggan yang sah. Tanpa pemantauan aset yang granular, seperti melacak gift card dari aktivasi awal hingga penukaran akhir, institusi berisiko menanggung kerugian finansial yang besar namun tidak terdeteksi.

Untuk meminimalkan risiko, Zentara merekomendasikan perusahaan memantau pola penukaran gift card, serta melacak kecepatan antara aktivasi dan penukaran. “Termasuk melatih karyawan agar mampu mengenali rekayasa sosial berbasis AI,” tuturnya.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |