James Cameron dan Disney Digugat Soal Wajah Karakter Avatar

4 hours ago 1

SUTRADARA James Cameron beserta The Walt Disney Company digugat atas dugaan penggunaan data biometrik dan wajah aktris Q’orianka Kilcher tanpa izin untuk karakter Neytiri di waralaba Avatar. Gugatan ini menuduh bahwa proses kreatif film tersebut melibatkan "ekstraksi" fitur wajah Kilcher saat ia masih berusia 14 tahun.

Dalam laporan The Hollywood Reporter pada Kamis, 7 Mei 2026, Kilcher mengklaim bahwa Cameron menggunakan foto dirinya dari lokasi syuting film The New World (2005) sebagai fondasi utama desain karakter Neytiri. Meskipun karakter tersebut diperankan secara fisik oleh Zoe Saldana melalui teknologi motion capture, tim desain diduga diperintahkan untuk mereplikasi fitur wajah Kilcher secara mendetail ke dalam model digital dan maket produksi.

Bukti Pengakuan dalam Wawancara Video

Kasus ini mencuat ke publik setelah beredarnya video wawancara terbaru James Cameron yang membahas pameran museum miliknya di Paris. Dalam rekaman tersebut, Cameron secara eksplisit menyebut nama Kilcher sebagai sumber inspirasi visualnya. Ia menyatakan bahwa bagian bawah wajah Neytiri diambil dari foto Kilcher di surat kabar LA Times. Hal inilah yang menjadi dasar kuat bagi Kilcher untuk membawa masalah ini ke meja hijau karena merasa dikhianati secara profesional.

James Cameron. Shutterstock

Dilansir dari IGN, Kilcher mengaku sempat menerima sketsa asli Neytiri dari Cameron pada 2010 dengan catatan kecil yang memuji kecantikannya sebagai inspirasi. Namun, saat itu ia hanya menganggapnya sebagai bentuk apresiasi seni biasa, bukan sebuah proses teknis yang sistematis tanpa kompensasi.

"Saya tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang saya percayai akan secara sistematis menggunakan wajah saya sebagai bagian dari proses desain yang rumit dan mengintegrasikannya ke dalam jalur produksi tanpa sepengetahuan atau persetujuan saya," ujar Kilcher seperti dilansir dari Variety.

Tuntutan atas Hak Biometrik dan Ganti Rugi

Kuasa hukum Kilcher, Arnold P. Peter, menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh tim produksi Avatar bukanlah sekadar inspirasi seni, melainkan sebuah pencurian data biometrik. Pihak penggugat menekankan bahwa fitur unik seorang gadis Pribumi (Indigenous) telah dikomersialkan menjadi aset digital yang menghasilkan keuntungan miliaran dolar bagi Disney dan Lightstorm Entertainment tanpa ada izin tertulis maupun kredit bagi sang aktris.

"Apa yang dilakukan Cameron bukanlah inspirasi, melainkan ekstraksi," tegas Arnold P. Peter. "Dia mengambil fitur wajah biometrik yang unik dari seorang gadis berusia 14 tahun, memprosesnya melalui mesin industri, dan menghasilkan laba raksasa tanpa pernah meminta izin. Itu bukan pembuatan film, itu adalah pencurian."

Gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Tengah California ini menuntut ganti rugi kompensasi, ganti rugi punitif, serta penyerahan sebagian keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan citra wajah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak Disney maupun James Cameron belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah hukum yang diambil oleh bintang serial Yellowstone tersebut. Kasus ini diprediksi akan menjadi standar baru dalam perlindungan hak citra aktor di tengah kian canggihnya teknologi digital di Hollywood.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |