FILM horor-komedi asal Thailand berjudul Undertaker 2: Afterlife akan tayang di bioskop Tanah Air mulai Rabu, 17 Juni 2026. Film yang menjadi salah satu terlaris di Thailand 2026 ini disutradarai dan ditulis oleh Thiti Srinual.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Film ini menawarkan pengalaman sinematik yang menegangkan sekaligus menyentuh sisi emosional tentang kehilangan, kematian, dan misteri kehidupan setelah kematian. Kedua unsur itu dibalut dengan lemparan-lemparan komedi yang tersebar di beberapa adegan dalam film.
Sinopsis Undertaker 2: Afterlife
Undertaker 2: Afterlife bercerita tentang kehidupan sebuah desa yang perlahan kembali normal setelah kematian Baikaow dan Sak. Namun ketenangan itu berubah menjadi kepanikan ketika Nenek Joy, yang sebelumnya meninggal akibat tersambar petir, tiba-tiba hidup kembali secara misterius.
Peristiwa yang seharusnya dianggap mukjizat itu justru membuka serangkaian kejadian aneh yang membuat seluruh desa dihantui ketakutan. Pertanyaan pun muncul perihal Nenek Joy saat kembali dari kematian, entah memang hidup kembali atau ada sesuatu yang ikut pulang dari dunia yang seharusnya tidak bisa disentuh manusia.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi jantung cerita Undertaker 2: Afterlife. Di balik tawa dan tingkah kocak para penduduk desa, tersimpan misteri kelam yang perlahan mengungkap rahasia tentang alam setelah kematian. Film ini mengajak penonton memasuki wilayah abu-abu antara dunia manusia dan dunia arwah, tempat rasa rindu, penyesalan, dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Film ini dibintangi aktor Thailand seperti Phuwasit Ananbhornsiri, Natthawut Saenyabut, Thanadon Buarabat, Thanwaporn Nasombat, dan Boonta Kutyapila. Dengan durasinya yang sampai sekitar 128 menit, film ini menghadirkan suasana yang berganti dengan cepat dari mengundang tawa menjadi membuat bulu kuduk berdiri.
Tidak seperti film horor pada umumnya yang hanya mengandalkan kemunculan hantu dan jumpscare, Undertaker 2: Afterlife menghadirkan ketegangan psikologis yang lahir dari rasa kehilangan dan keinginan manusia untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang telah meninggal. Ketika batas antara hidup dan mati mulai kabur, teror yang muncul menjadi jauh lebih mengerikan daripada sekadar penampakan, yang dibumbui dengan unsur budaya lokal.
















































