DIREKTUR Institute for Development of Economics and Finance Green Transition Initiative (INDEF GTI) Imaduddin Abdullah memperkirakan pendapatan global dari mineral kritis akan meningkat hingga 539 persen pada 2050. Sebaliknya, pendapatan dari sektor batu bara diproyeksikan turun sekitar 59 persen pada periode yang sama.
Menurut Imaduddin, lonjakan permintaan mineral kritis hingga 2040 tidak lagi terutama didorong oleh kendaraan listrik. Permintaan itu juga didorong kebutuhan infrastruktur penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Kita lihat ini menjadi salah satu potensi besar, terutama dalam konteks program pemerintah yang berkaitan dengan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt. Agenda 100 GW ini akan meningkatkan kebutuhan panel surya, baterai, kabel, aluminium, kaca, tembaga, dan berbagai komponen kelistrikan lainnya," kata Imaduddin dalam diskusi INDEF di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
Ia menjelaskan, pengembangan sistem penyimpanan energi untuk mendukung pembangkit energi terbarukan akan menjadi faktor utama yang mendorong permintaan mineral kritis seperti nikel, kobalt, dan mangan. Kontribusi sektor penyimpanan energi terhadap permintaan mineral-mineral tersebut diperkirakan mencapai sekitar 74 persen.
Saat ini, kata Imaduddin, Indonesia memiliki cadangan mineral kritis seperti nikel mencapai 62 juta ton atau hampir setengah cadangan dunia. Meski memiliki cadangan mineral kritis yang besar, Imaduddin menilai Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dari sektor tersebut.
Salah satu persoalan utama adalah belum terbangunnya industri komponen pendukung secara menyeluruh di dalam negeri. Sebagai contoh, Indonesia masih bergantung pada impor solar wafer, komponen penting dalam industri panel surya yang memiliki potensi nilai tambah tinggi.
Padahal, ia melanjutkan, solar wafer memiliki nilai tambah yang bisa mencapai 68 kali lipat. "Namun sampai saat ini industri tersebut belum tersedia di Indonesia dan kita masih bergantung pada impor," ujarnya.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengatakan tekanan perubahan iklim dan dinamika geopolitik global mempercepat kebutuhan transisi menuju energi bersih.
Menurut dia, perubahan tersebut akan menggeser struktur kebutuhan energi dunia dari energi fosil yang selama ini ditopang batu bara menuju energi baru dan terbarukan yang membutuhkan pasokan mineral kritis dalam jumlah besar.
"Permintaan terhadap mineral kritis, seperti litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2040 untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, dan jaringan listrik modern," kata Cecep.
Ia menambahkan, mineral kritis akan menjadi salah satu faktor penentu daya saing ekonomi global pada masa mendatang. Ia menilai negara yang mampu menguasai rantai pasok dan industri pengolahan mineral kritis akan memiliki posisi strategis dalam ekonomi energi baru.
Di sisi lain, kata Cecep, batu bara diperkirakan masih memainkan peran penting dalam beberapa dekade mendatang. Namun secara struktural, komoditas tersebut mulai memasuki fase pertumbuhan yang cenderung stagnan dan berpotensi mengalami penurunan secara bertahap seiring berkembangnya energi baru dan terbarukan.
"Secara global batu bara masih memiliki volume yang sangat besar. Namun secara struktural sudah memasuki fase yang relatif mendatar dan mulai mengalami penurunan bertahap seiring perkembangan energi baru dan terbarukan," ujarnya.
















































