INDEF: Sektor Midstream Percepat Hilirisasi Mineral Kritis

2 hours ago 1

DIREKTUR INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah mendorong penguatan sektor antara atau midstream mineral kiritis. Menurut dia, pengembangan midstream dapat menjadi langkah awal yang lebih realistis dibandingkan langsung membangun industri hilir yang lebih kompleks.

Sektor ini berada di antara kegiatan hulu (upstream) dan hilir (downstream). Menurut Imaduddin, sejumlah komponen yang masuk dalam sektor midstream sebenarnya dapat dikembangkan dengan memanfaatkan bahan baku domestik yang telah tersedia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Beberapa di antaranya adalah rangka aluminium, kaca temper, kabel tembaga, kontak listrik, hingga berbagai komponen berbasis timah yang dibutuhkan dalam rantai pasok energi bersih.

"Prioritas jangka menengah sebaiknya pada produk kompleks yang masih dekat dengan kemampuan Indonesia, karena lebih realistis dikembangkan dari basis industri yang ada. Penguatan sektor antara perlu menjadi prioritas agar nilai tambah lebih banyak tinggal di dalam negeri," kata Imaduddin dalam diskusi di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.

Kajian INDEF GTI tahun 2026 menunjukkan intervensi berupa insentif fiskal di sektor midstream mampu meningkatkan nilai tambah hingga 14,39 persen dan menarik pertumbuhan sektor hulu sebesar 14,22 persen. Sementara itu, kebijakan yang mendukung pengembangan tenaga kerja di sektor ini berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga 76,81 persen serta mendorong ekspor sebesar 18,03 persen.

Meski demikian, ia mengingatkan, penguatan sektor ini juga memiliki konsekuensi. Sebab, subsidi produksi pada sektor midstream berpotensi meningkatkan impor bahan baku dari sektor hulu hingga 23,71 persen. Karena itu, strategi tersebut harus dibarengi dengan penguatan pasokan bahan baku domestik dan integrasi rantai pasok dari hulu hingga sektor antara.

Di lain sisi, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Cecep Mochammad Yasin mengatakan permintaan mineral kritis seperti litium, nikel, dan kobalt diproyeksikan terus meningkat hingga 2040. Kenaikan tersebut didorong oleh pesatnya pengembangan teknologi energi terbarukan, kendaraan listrik, baterai, dan jaringan listrik modern.

Menurut Cecep, Indonesia memiliki cadangan sejumlah mineral kritis dalam jumlah besar. Namun, kepemilikan sumber daya alam saja tidak cukup untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang optimal. Karena itu, hilirisasi menjadi kunci agar mineral yang ditambang dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Ia mencontohkan rantai nilai industri nikel yang dapat berkembang dari bijih menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel matte, prekursor katoda, sel baterai, hingga produk akhir. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di dalam negeri, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dinikmati Indonesia.

"Penguasaan sumber daya mineral akan menjadi penentu utama daya saing ekonomi global. Kunci ke depan ada pada percepatan hilirisasi, teknologi yang lebih bersih, dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab," ujarnya.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |