Tim UGM: Hidrogen dari Limbah Potong Ayam Picu Api di Sleman

2 days ago 12

TIM peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menyimpulkan kemunculan puluhan titik api di rumah warga di Seyegan, Sleman, diduga berawal dari gas hidrogen yang berkaitan dengan limbah pemotongan ayam.

Setelah melakukan observasi selama lebih dari dua pekan, tim juga memastikan tidak menemukan bukti kuat adanya fenomena alam yang memicu kemunculan api tersebut. Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM resmi menutup penyelidikan yang dimulai sejak 30 Mei lalu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ketua tim, Prof. Alva Edy Tontowi, mengatakan sejak awal penelitian tim mendeteksi keberadaan gas hidrogen pada sejumlah titik kemunculan api. Gas tersebut diduga berasosiasi dengan gas pyrophoric yang berasal dari limbah pemotongan ayam di sekitar lokasi.

“Sesuai dugaan awal yang telah kami sampaikan pada rilis pertama, tim mendeteksi adanya gas hidrogen pada titik-titik munculnya api yang diduga berasosiasi dengan gas pyrophoric yang berasal dari limbah potongan ayam,” kata Alva, Senin, 15 Juni 2026.

Untuk menguji dugaan tersebut, tim melakukan serangkaian pemeriksaan lapangan dan laboratorium, mulai dari pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan tanah menggunakan georadar dan geolistrik, hingga analisis kandungan gas dan residu kebakaran.

Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya kandungan PVC (polivinil klorida) pada residu kebakaran yang menempel di keramik, kayu, dan tripleks. Material tersebut menghasilkan gas hidrogen klorida ketika terbakar, yang terbaca oleh alat deteksi sebagai gas hidrogen. Temuan itu sekaligus menjelaskan mengapa pembacaan gas hidrogen masih terdeteksi di lokasi setelah kejadian.

Tim tidak menemukan bukti adanya aktivitas geologi, kebocoran gas alam, anomali termal, maupun gangguan medan elektromagnetik yang dapat menjelaskan kemunculan api secara alami. Pemantauan menggunakan drone dan sensor inframerah dalam radius hingga 200 meter dari lokasi kejadian juga tidak menunjukkan adanya sumber panas yang tidak lazim.

Anggota tim, Sarju Winardi, mengatakan seluruh hasil pengukuran medan listrik dan medan magnet masih berada dalam batas normal. Retakan tanah yang sebelumnya sempat dicurigai sebagai jalur keluarnya gas juga tidak terbukti mengandung gas alam.

“Tim tidak cukup menemukan bukti kuat bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala karena pemantik elektromagnetik maupun menyala sendiri akibat spontaneous ignition,” ujar Sarju.

Berdasarkan seluruh rangkaian investigasi tersebut, tim menyimpulkan kemunculan awal titik api diduga dipantik oleh gas hidrogen yang berkaitan dengan limbah pemotongan ayam. Sementara jejak gas yang masih terdeteksi pada tahap berikutnya berkaitan dengan residu material yang telah terbakar di lokasi.

Seluruh hasil penyelidikan kini diserahkan kepada BPBD Sleman untuk tindak lanjut. Dengan itu, investigasi akademik atas fenomena titik api misterius di Seyegan resmi berakhir.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |