INFO TEMPO – Fenomena sinkhole atau lubang raksasa di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, belum berhenti bergerak. Berdasarkan informasi sementara dari BPJN Aceh, kedalaman sinkhole diperkirakan mencapai sekitar 85 meter dengan luas area terdampak mencapai tiga hektare.
Di balik angka itu, ada ancaman nyata yang sedang melumpuhkan urat nadi kehidupan warga. Lubang raksasa ini bukan sekadar fenomena geologi murni, melainkan monster senyap yang terus mengunyah lahan pertanian subur seperti kopi dan palawija.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kawasan Ketol berada di dataran tinggi Gayo, sekitar 1.000–1.700 meter di atas permukaan laut. Kombinasi suhu sejuk, tanah vulkanik, dan bentang alam pegunungan membuat kopi dari kawasan ini dikenal hingga pasar internasional. Karena itu, kerusakan lahan dan infrastruktur akibat sinkhole berpotensi mengganggu eksistensi kopi Gayo.
Terlebih, akses transportasi di wilayah ini ikut terganggu, dapat menyulitkan distribusi hasil pertanian, ditambah ancaman terhentinya jaringan kelistrikan. Temuan terkini, salah satu menara transmisi energi listrik regional sudah tidak terlihat dan amblas ke dalam lubang.
Menyadari rangkaian potensi ancaman itu, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas PRR) Sumatra bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan PT Hutama Karya kembali berkunjung pada Jumat, 12 Juni 2026.
BPJN Aceh menjelaskan, kondisi tanah di dalam area sinkhole sangat lunak dan berlumpur sehingga tidak dapat diinjak. Berdasarkan hasil pengamatan teknis, struktur tanah di kawasan tersebut didominasi material bekas abu vulkanik dengan kandungan batuan yang sangat minim.
Kondisi tersebut membuat lapisan tanah lebih rentan terhadap proses erosi bawah permukaan, terutama saat curah hujan tinggi atau terjadi aktivitas kegempaan.
Pengikisan yang berlangsung secara terus-menerus diduga menjadi salah satu faktor yang mempercepat pembentukan rongga bawah tanah dan memicu terjadinya amblasan. Pengikisan ini semakin membahayakan bila terjadi gempa atau longsor susulan.
Mengarah ke Danau Laut Tawar
Hasil pengamatan BPJN Aceh dan PT Hutama Karya juga menunjukkan perkembangan baru. Jika sebelumnya kecenderungan pelebaran sinkhole mengarah ke hulu Sungai Peusangan, kini area amblas terindikasi bergerak menuju kawasan Danau Laut Tawar.
Danau Laut Tawar merupakan salah satu aset ekologis dan ekonomi di Aceh Tengah. Selain menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar, danau seluas lebih dari 5.000 hektare itu juga menopang sektor perikanan, pariwisata, dan pertanian di kawasan Dataran Tinggi Gayo.
Indikasi pergerakan area amblas ke arah danau menjadi sinyal yang perlu dicermati. Sejumlah kajian geologi menunjukkan fenomena amblasan pada kawasan yang didominasi material vulkanik dapat terus berkembang apabila proses erosi bawah permukaan masih berlangsung.
Karena itu, Satgas PRR merekomendasikan pemantauan harian terhadap perkembangan lubang raksasa ini, termasuk pembaruan rambu-rambu peringatan, serta pemasangan pembatas area secara berkala guna mencegah masyarakat memasuki zona berbahaya.
Kajian geologi dan hidrologi juga telah dilakukan untuk memetakan arah pergerakan air serta mengidentifikasi jalur aliran bawah tanah yang diduga berpengaruh terhadap perkembangan sinkhole, termasuk menguji coba pengalihan aliran air sebagai bagian dari upaya mitigasi.
Mitigasi ancaman air yang jatuh ke sinkhole ini sejalan dengan hasil kunjungan Kasatgas PRR Tito Karnavian pada April 2026. Saat itu ia mengingatkan seluruh unsur Satgas PRR dan pemda memantau perkembangan sinkhole setiap saat.
“Rumuskan langkah-langkah strategis dan solusi konkret dalam penanganan fenomena sinkhole guna meminimalisir dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujar Tito dikutip dari laman Bappeda Aceh Tengah.
Aksi Satgas PRR ini sebagai pelaksanaan amanat Surat Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2026 tentang Rencana Induk (Renduk) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam Sumatra.
Dalam SK tentang Renduk itu, Satgas diberi mandat untuk mengoordinasikan penyelesaian berbagai kendala rehabilitasi dan rekonstruksi di lapangan agar proses pemulihan dapat berjalan lebih efektif.
Berlandaskan amanat dan ancaman lubang raksasa dari hasil kajian Satgas PRR, diharapkan menjadi dasar bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun langkah penanganan yang lebih komprehensif.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar fenomena sinkhole di Aceh Tengah tidak hanya dimitigasi dalam jangka pendek, tetapi juga memperoleh solusi yang mampu melindungi masyarakat, infrastruktur, dan lingkungan dalam jangka panjang. (*)


















































