Satgas PRR Pasang 70 Titik Irigasi Pompa, 60 Persen Sawah Rusak Sedang Siap Tanam

5 hours ago 1

INFO TEMPO – Pemulihan sawah terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang memasuki fase baru. Setelah berbulan-bulan fokus membersihkan lumpur dan memperbaiki lahan, pemerintah daerah setempat bersama Satuan Tugas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi atau Satgas PRR memperkuat pasokan air melalui program Bantuan Irigasi Pompa di 70 titik.

Langkah tersebut untuk memastikan ribuan hektare sawah yang telah direhabilitasi dapat kembali produktif dan mendukung ketahanan pangan masyarakat pascabencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perlindungan Tanaman, Irwan Hadi, mengatakan penyediaan Irpop merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam pemulihan sawah, bukan sekadar membersihkan lumpur sisa banjir bandang.

“Ini adalah program hulu ke hilir penanganan pascabanjir. Kami fokus membersihkan lahan secepat mungkin agar masyarakat bisa kembali turun ke sawah, namun kami juga memastikan infrastruktur penunjangnya, seperti irigasi pompa, siap mengawal proses produksi mereka,” kata Irwan.

Menurut dia, bantuan irigasi pompa berfungsi menjaga pasokan air ke lahan pertanian, terutama saat memasuki musim tanam. Keberadaan pompa juga diharapkan membantu petani mengantisipasi gangguan distribusi air yang dapat menghambat proses budidaya.

Dengan dukungan pasokan air yang lebih terjamin, lahan yang telah direhabilitasi diharapkan dapat segera kembali ditanami dan menghasilkan panen. Langkah ini sejalan dengan upaya pemulihan sektor pertanian yang menjadi salah satu prioritas dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatra.

Program tersebut melengkapi berbagai upaya rehabilitasi sawah yang telah berjalan di Aceh Tamiang selama enam bulan terakhir. Satgas PRR Aceh membagi penanganan lahan berdasarkan tingkat kerusakannya untuk mempercepat proses pemulihan.

Untuk kategori lahan rusak sedang, rehabilitasi dilaksanakan oleh Kodim 0117/Aceh Tamiang dengan target 712 hektare. Program ini didukung anggaran Rp 13,5 juta per hektare untuk pembersihan material lumpur yang membutuhkan alat berat.

Hingga 14 Juni 2026, pembersihan telah mencapai 428,28 hektare atau 60,15 persen dari target. Bahkan, Di Kecamatan Manyak Payed, lahan seluas 66 hektare yang telah dibersihkan sudah kembali ditanami padi.

Sementara itu, lahan rusak ringan ditangani melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah) dengan target 1.961 hektare. Berbeda dengan lahan rusak sedang, pengerjaannya dilakukan langsung oleh kelompok tani dengan dukungan bantuan Rp 4,6 juta per hektare.

Oplah dijalankan dengan semangat gotong royong. Selain TNI menurunkan alat berat, kelompok tani ikut membersihkan sisa material banjir, memperbaiki kondisi lahan, serta menyiapkan kembali areal tanam.

Dampak Irpop dan oplah diakui oleh Abdul Salam, 43 tahun, petani di Kampung Matang Tepah, Kecamatan Bendahara. “Kami sangat bersyukur, sekarang sudah bisa menanam padi lagi. Hidup kami kembali bergairah karena dari sawah inilah kami mencari nafkah. Terima kasih Satgas PRR yang sudah peduli dan membersihkan sawah kami,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Tepah Jaya, Erwinsyah, juga mengapresiasi pendampingan yang diberikan selama proses pemulihan berlangsung. Menurut dia, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa perbaikan fisik lahan, tetapi juga dukungan dan motivasi agar petani kembali bangkit setelah bencana.

“Petani menjadi lebih semangat karena tidak berjalan sendiri. Kami mendapat pendampingan selama proses pemulihan sehingga bisa kembali mengolah sawah dan menanam padi,” kata Erwinsyah. (*)

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |