APLIKASI personal AI Agentik berbasis open source, OpenClaw, baru saja dirilis pada November tahun lalu. Jumlah penggunanya pada awal 2026 ini mencapai lebih dari 2 juta kali kunjungan dalam satu pekan.
Guru Besar Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Ridi Ferdiana, menjelaskan OpenClaw merupakan bentuk lanjutan dari akal imitasi yang mampu menjalankan pekerjaan asisten virtual. Menggunakan platform aplikasi perpesanan sebagai user interface utamanya, OpenClaw bisa dimanfaatkam untuk membuat strategi perencanaan, pengambilan aksi kompleks, dan melakukan penyelesaian tugas secara mandiri.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Konsep kerja OpenClaw memanfaatkan data internal pengguna dan data eksternal dari internet guna menyelesaikan tugas-tugas yang diperintahkan. Sumber atau proses pemrograman dapat dilihat publik dengan terbuka. Dari sinilah, menurut Ridi, celah keamanan muncul. "Serangan siber atau kebocoran mungkin terjadi, baik pada skala individu maupun perusahaan penggunanya,” katanya melalui keterangan tertulis yang dikutip pada Senin, 6 April 2026.
Menurutnya, siapapun bisa melihat bagaimana proses pembuatan OpenClaw sehingga banyak pengembang mempelajari dan berusaha membuat sistem serupa. Sementara itu, pakar teknologi dan informasi tersebut menyampaikan, masyarakat sering tidak memahami informasi yang tertera pada sistem konfigurasi dan mengabaikan imbauan untuk memperbarui perangkat.
“Bagi mereka yang awam, perizinan pada perangkat kerap diabaikan dan langsung dilewati maupun asal diizinkan," katanya sambil menambahkan, "Dari sinilah penyebab timbulnya risiko kebocoran data pada pengguna Agentic AI dengan sumber terbuka seperti OpenClaw.”
Ridi menjelaskan, pengguna wajib memahami sejauh mana kebutuhan pengguna terhadap OpenClaw. Menurut dia, sebagian besar layanan yang disediakan OpenClaw sudah tersedia di penyedia pihak ketiga platform dan cloud, sehingga dia menilainya data vital lebih aman dan terjamin.
Ia menekankan pentingnya keyakinan bahwa sistem keamanan, perangkat, dan server pengguna telah aman. Setelah aman, upaya ekstra dalam membaca dan memahami menjadi penting untuk memastikan bahwa langkah perizinan atau konfigurasi aplikasi-aplikasi baru telah benar. Ketiga, pengguna dapat memeriksa adanya kebocoran data melalui pemantauan minimal dua bulan sekali.
"Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat otomasi OpenClaw memiliki tendensi membuat skenario berbeda di luar kehendak individu dan perusahaan," katanya. Kuncinya, Ridi menegaskan, ada pada aktivitas ekstra membaca, ekstra memperbarui, ekstra memantau. "Karena celah keamanan siapapun bisa terimbas, baik pribadi maupun perusahaan, yang membedakan hanya nilai data yang berpotensi bocor.”

















































