Mengapa Parfum Lokal Kian Diminati

2 hours ago 1

MINAT konsumen terhadap parfum lokal semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terlihat dari ramainya pengunjung pameran parfum lokal dan meningkatnya penjualan wewangian buatan dalam negeri di platform digital. Konsumennya bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura. 

Henry Suhardja, direktur Followme Fragrance, mengatakan bahwa minat terhadap parfum lokal berubah drastis saat pandemi Covid-19. Menurut dia, sebelumnya, parfum lokal dipandang sebelah mata karena dianggap meniru wewangian dari Eropa. Namun, selama pandemi, ketika perdagangan global mengalami gangguan sehingga impor produk parfum pun sempat terhambat, masyarakat mulai mencoba produk lokal. Banyak orang yang biasanya membeli (parfum) seharga Rp 2 atau Rp 3 juta, mencoba yang seharga Rp 200 ribu. "Ternyata, dengan harga segitu wanginya tidak kalah. Inilah jadi titik baliknya, brand lokal pun mulai berani berkreasi," kata Henry yang sudah berbisnis parfum lebih dari 30 tahun, saat ditemui di pameran parfum lokal Jagat Aroma, Jakarta Selatan, Jumat, 29 Mei 2026.  Kepercayaan konsumen terhadap produk lokal ini membuat banyak merek wewangian baru bermunculan sejak 2021 hingga sekarang. Konsumennya pun makin luas. Generasi Z bahkan generasi Alfa pun kini banyak yang menyukai parfum. Bukan sekadar pemakai, mereka juga belajar lebih banyak tentang jenis aroma dan tipe wewangian. Ini didukung dengan tersedianya bahan baku wewangian yang berasal dari tumbuhan asli Indonesia. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Enrico, Sales Manager brand Bali Surfer's Perfume, mengatakan demam produk lokal sejak pandemi ini tidak hanya terjadi pada parfum. Setelah pandemi, kondisi yang sama terjadi pada produk gaya hidup seperti kaus, celana, dan sepatu. "Masyarakat lebih mengapresiasi produk lokal, termasuk parfum," kata Rico yang ditemui di event Jagat Aroma, Jumat.  

Pilihan Editor: Tren Baru Meracik Parfum Sendiri

Event khusus parfum kini sering diselenggarakan di berbagai kota-kota besar. "Dan enggak tahu mengapa, produsennya bertambah terus. Kami sudah berapa kali ikut event-event seperti ini (Jagat Aroma), ada saja yang baru," kata dia. 

Kemunculan merek-merek baru ini, kata dia, juga didorong keinginan masyarakat memiliki brand sendiri. "Jiwa entrepreneurship-nya pada keluar," kata dia. 

Menurut data Compas.co.id, 10 brand parfum terlaris kuartal 1 2026 di Shopee didominasi produk lokal, yakni Mykonos (5,27 persen), Octarine (3,90 persen), Scarlett (3,87 persen), HMNS (3,40 persen), Saff & Co. (2,51 persen), Macbrame (,23 persen), Fres & Natural (1,16 persen), dan Morris (1,08 persen). Dua lainnya adalah produk dari Dubai, yakni Afnan (2,03 persen) dan Ahmed Al Maghribi (1,25 persen).

Kualitas Meningkat

Faktor lain yang membuat minat masyarakat terhadap wewangian lokal begitu tinggi adalah kualitasnya. Nugroho Adi, Operation Manager The People Pleasure (TPP), penyelenggara pameran parfum lokal Jagat Aroma, mengatakan bahwa wewangian buatan dalam negeri sekarang bisa bersaing dengan brand-brand luar. "Kualitasnya selalu naik dengan harga yang lebih affordable.”

Meningkatnya kualitas wewangian ini didukung oleh fragrance house global, seperti Givaudan, yang punya pengalaman ratusan tahun di industri wewangian. Menurut Nugroho, Givaudan yang menyediakan bibit parfum untuk banyak merek global itu membuka penjualan di Indonesia sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, perfumer atau tenaga ahli meracik parfum di Indonesia juga semakin banyak. 

Selain itu, strategi pemasaran yang dekat dengan budaya populer anak muda juga ikut mendorong popularitas parfum lokal. Sejumlah merek mulai bekerja sama dengan tim e-sports dan figur yang populer di kalangan remaja laki-laki. 

Sejumlah merek parfum lokal kini bahkan mulai memperluas pasar ke luar negeri. Brand seperti Alchemist dan HMNS telah membuka pasar di Malaysia, sementara Mykonos juga sudah memiliki banyak peminat di luar Indonesia. “Kayaknya brand-brand parfum dari Cina atau Korea yang masuk ke sini tidak begitu bisa bersaing dengan produk lokal,” ujar Nugroho. Ia optimistis parfum lokal masih akan terus berkembang dan mampu menjadi pemain utama di pasar domestik maupun regional.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |