IHSG Menguat ke 6.195,4, Bagaimana Proyeksinya Sepekan?

1 hour ago 1

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan pekan ini atau Selasa, 2 Juni 2026 ditutup di level 6.195,4 atau menguat t1,11 persen dibanding penutupan hari sebelumnya. Pergerakan IHSG selama pekan ini akan dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia hingga akhir sesi hari, total nilai transaksi perdagangan saham hingga sesi terakhir mencapai Rp 25,47 triliun. Adapun frekuensi trading tercatat sebanyak 2,57 juta kali dan volume trading sebanyak 31,24 miliar lembar saham

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Adapun pada pekan lalu atau Jumat, 29 Mei 2026, indeks saham ditutup melemah di level 6.127. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menyatakan selama pelemahan IHSG di 1 bulan terakhir atau Mei 2026, investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp 19.4 triliun di pasar reguler.

Menurut David, pelemahan dan larinya investor asing ini dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Dari sisi global tensi geopolitik menunjukkan tanda mereda, namun di sisi domestik, rupiah sempat melemah sebesar 6,6 persen jika dibandingkan awal tahun atau secara year to date.

Memasuki Juni 2026, David menyatakan, perhatian investor diperkirakan akan beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju kemampuan otoritas menjaga stabilitas rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing. Stabilitas nilai tukar akan menjadi faktor paling krusial dalam menentukan arah pasar ke depan.

Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan eksternal, pasar masih akan mencermati apakah kebijakan tersebut efektif menahan volatilitas rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal. "Jika rupiah mampu menunjukkan stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik,” ucapnya.

Selain pergerakan rupiah, David menyatakan, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni berpotensi menjadi katalis terbesar bulan ini. Investor akan menunggu sinyal terbaru mengenai arah suku bunga dan prospek inflasi Amerika Serikat.

Ia menjelaskan, sikap bank sentral AS atau Federal Reserve yang masih cenderung hawkish berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS dan membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang. Sebaliknya, bila terdapat indikasi bahwa tekanan inflasi AS mulai mereda dan peluang penurunan suku bunga semakin terbuka pada paruh kedua tahun ini, aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia dapat memperoleh sentimen positif.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |