PANAS dan kelembapan yang meningkat akibat perubahan iklim berpotensi mengganggu aktivitas olahraga luar ruangan, termasuk pertandingan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Para ilmuwan memperingatkan kondisi panas ekstrem kini semakin sering mencapai tingkat yang dapat menurunkan performa fisik sekaligus membahayakan kesehatan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Peneliti memprediksi hampir separuh pertandingan yang dijadwalkan, terutama di wilayah selatan Amerika Serikat dan dataran rendah Meksiko, memiliki kemungkinan sedikitnya 50 persen mengalami kondisi yang dikategorikan sebagai “panas yang mengganggu performa”.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah tim menjalani latihan intensif dalam kondisi panas dan menyiapkan berbagai fasilitas pendingin seperti bak rendam air dingin, rompi es, dan kipas penyemprot kabut air selama turnamen.
Namun, fasilitas serupa tidak mudah diakses oleh peserta olahraga komunitas maupun masyarakat yang berolahraga untuk rekreasi. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi keamanan aktivitas fisik masyarakat di tengah meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca panas akibat perubahan iklim.
“Mayoritas orang yang berolahraga untuk kompetisi atau sekadar untuk kesenangan, rekreasi, dan waktu luang hanya memiliki sebagian kecil dari kemampuan yang dimiliki penyelenggara olahraga profesional, tetapi menghadapi tantangan dan dampak yang lebih besar,” kata Jessica Murfree, asisten profesor di Departemen Ilmu Latihan dan Olahraga Universitas North Carolina di Chapel Hill, dikutip dari laporan Live Science, 16 Juni 2026.
Dalam dunia olahraga, risiko panas umumnya diukur menggunakan indikator wet-bulb globe temperature (WBGT), yang memperhitungkan kombinasi suhu udara, kelembapan, paparan sinar matahari langsung, dan kecepatan angin. Kelembapan menjadi faktor penting karena kandungan uap air yang tinggi di udara membuat keringat lebih sulit menguap sehingga kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri menurun.
Sejumlah penelitian menunjukkan kejadian panas lembap ekstrem di sebagian besar wilayah Amerika Serikat telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1980. Secara global, perubahan iklim juga diperkirakan menambah sekitar tiga minggu kondisi panas lembap berbahaya sepanjang 2024.
Menurut Murfree, risiko kesehatan akibat panas tidak hanya dipengaruhi kondisi fisik dan tingkat hidrasi seseorang, tetapi juga faktor sosial ekonomi. Masyarakat berpenghasilan rendah dinilai lebih rentan karena cenderung tinggal di lingkungan perkotaan yang lebih panas dan memiliki akses terbatas terhadap pendingin udara.
Saat tubuh tidak mampu membuang panas berlebih, seseorang dapat mengalami kelelahan akibat panas (heat exhaustion) yang ditandai pusing, mual, sakit kepala, dan kram otot. Jika kondisi berlanjut, suhu inti tubuh dapat meningkat hingga memicu heat stroke atau sengatan panas yang berpotensi fatal.
“Kita hanya memiliki jumlah darah yang terbatas di dalam tubuh, dan secara bersamaan darah itu digunakan untuk mendukung kerja otot agar kita bisa berolahraga, sekaligus dialirkan ke kulit untuk membantu mendinginkan tubuh,” ujar Grant Lynch, peneliti di Heat and Health Research Centre Universitas Sydney.
Menurut Lynch, tubuh memang dapat beradaptasi terhadap panas ekstrem melalui proses aklimatisasi. Namun, manfaat adaptasi tersebut tidak bersifat permanen dan akan berkurang jika seseorang kembali berada di lingkungan yang lebih sejuk dalam waktu tertentu.
Untuk mengurangi risiko, para ahli menyarankan masyarakat menjaga hidrasi sebelum, selama, dan setelah berolahraga, mengenakan pakaian yang ringan, beristirahat secara berkala, serta menunda aktivitas ketika risiko panas terlalu tinggi.
Mereka juga memperkirakan gelombang panas akan terus meningkat seiring kenaikan suhu rata-rata global, sehingga penyesuaian jadwal dan infrastruktur olahraga akan semakin dibutuhkan di masa mendatang.
















































