BADAN Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengembangkan akal imitasi (AI) khusus untuk mendeteksi ledakan alga berbahaya (harmful algal blooms) di Florida bagian barat dan California Selatan. Sistem yang dibuat dari kumpulan data pengamatan itu dipakai untuk menangkal dampak ledakan alga yang menimbulkan risiko kesehatan dan kerugian ekonomi hingga puluhan juta dolar per tahun.
Mengutip ulasan di laman media NASA, yang terbit pada 20 Mei 2026, Tampa Bay dan Sarasota termasuk area yang menghadapi masalah alga selama beberapa dekade. Salah satu spesies alga, Karenia brevis, berkembang sangat pesat di perairan Teluk Amerika. Pertumbuhan itu membunuh satwa liar, mencemari pantai, dan menyebabkan gangguan kesehatan pada para perenang.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di Pantai Barat Amerika Serikat, ledakan alga dari kelompok Pseudo-nitzschia selama beberapa tahun terakhir juga meracuni ratusan lumba-lumba, dan hewan laut lainnya. Racun dari alga bahkan dapat masuk ke udara dan menyebabkan gangguan pernapasan pada manusia.
Untuk mengelola risiko tersebut, lembaga kesehatan lokal biasanya menguji kualitas perairan secara reguler dan mengeluarkan peringatan atau menutup pantai jika diperlukan. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga bermitra dengan pemerintah negara bagian dan mitra lokal untuk menerbitkan prakiraan ledakan alga berbahaya. Pengujian tersebut mengharuskan petugas menghabiskan waktu berjam-jam, terutama untuk pengambilan sampel air secara manual.
Kini. satelit pengamat Bumi milik NASA telah digunakan untuk memantau ledakan alga berbahaya. Michelle Gierach, ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, mengatakan kecerdasan buatan dikembangkan untuk membantu menentukan lokasi yang harus menjadi fokus pengamatan. “Paling tidak, alat seperti ini dapat membantu kami mengetahui di mana dan kapan harus mengumpulkan sampel air ketika ledakan alga mulai terbentuk,” kata
Satelit tersebut mendeteksi berbagai petunjuk yang menandakan keberadaan ledakan alga. Sensor hiperspektral pada satelit Plankton, Aerosol, Cloud, ocean Ecosystem (PACE) milik NASA, misalnya, dapat mengidentifikasi komunitas alga berdasarkan ukuran, bentuk, dan pigmennya. Instrumen lain seperti Tropospheric Monitoring Instrument (TROPOMI) dapat mendeteksi cahaya merah redup yang dipancarkan spesies seperti Karenia brevis saat melakukan fotosintesis.
Meski semakin canggih, peneliti NASA masih berhadap dengan tantangan jumlah data mentah yang harus tersedia. Mereka perlu menjawab apakah AI dapat membedakan perairan dalam dan garis pantai, mengenali ledakan alga dari berbagai aliran data, serta menangani masukan yang berasal dari satelit maupun sensor yang berada di dalam air.
Tim tersebut mengembangkan sistem self-supervised machine learning untuk mempelajari pola dari berbagai jenis data satelit dan membandingkannya dengan pengamatan lapangan. Pendekatan ini memungkinkan AI mengenali hubungan antara berbagai sumber data tanpa memerlukan pelabelan data sebelumnya.
Sistem tersebut dilatih menggunakan data satelit yang dikumpulkan pada 2018 dan 2019. Pengukuran lapangan dan laboratorium kemudian digunakan untuk memberikan konteks terhadap pola-pola yang dikenali sistem. Para ilmuwan selanjutnya mengevaluasi kinerja alat tersebut menggunakan data dari periode berikutnya di wilayah geografis yang sama.
















































