PENEMU dan pengembang Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos), PT Inti Sinergi Formula, diminta fokus mengembangkan bahan bakar berjenis bensin karena dari hasil uji lab Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) jenis bensin Bobibos mengandung angka oktana riset atau RON 98,1 dengan metode uji ASTM D 2699-19e1.
Meski mengandung RON 98, Bobibos juga akan dijual dengan harga rendah, sehingga bisa menjadi alternatif bagi warga masyarakat. "Hasil uji pertama sudah jelas dan clear, Bobibos memiliki RON 98. Dan itu yang mengeluarkan hasil labnya, Lemigas juga. Jadi kami diminta fokus pada pengembangan Bobibos jenis bensin oleh Ditjen Migas Kementerian ESDM," kata Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula, Mulyadi, kepada Tempo, Rabu, 29 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Mulyadi mengatakan di tengah isu dan situasi global yang tidak menentu, terutama di sektor energi karena terjebaknya kapal-kapal minyak di Selat Hormuz, Bobibos yang menggunakan bahan baku nabati jerami, hadir dan bisa menjadi bahan bakar alternatif.
Kehadiran Bobibos, disebut Mulyadi, juga bisa menjawab kekhawatiran ancaman krisis energi karena kenaikan harga BBM. Pemerintah Indonesia pun mulai mencari solusi untuk penghematan energi, khususnya yang berbahan baku dari minyak bumi, serta pengembangan sumber energi alternatif.
"Nah Bobibos menjawab itu semua. Kita punya alternatif bahan bakar nabati, juga ongkos produksi dan jualnya saya katakan sangat murah. Bobibos RON 98 harganya empat sampai lima ribu rupiah, jauh dibandingkan RON 98 dari BBM yang paling murah saja 15 hingga 20 ribuan. Jadi bisa menjadi alternatif bagi masyarakat dan seluruh rakyat Indonesia," kata Mulyadi.
Mulyadi mengatakan kehadiran Bobibos saat ini pun sudah ditunggu oleh masyarakat Timor Leste karena PT Inti Sinergi Formula sudah menjalin MoU dengan Timor Agranova SA untuk mengembangkan dan memproduksi massal Bobibos di negara pecahan Indonesia itu. Saat ini Bobibos di Timor Leste sudah masuk produksi dengan menggunakan bahan baku jerami yang diolah oleh mesin biokimia milik PT Inti Sinergi Formula selaku penemu dan pengembangnya.
"Di Timor Leste kami sudah produksi. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk launching massalnya, karena Perdana Menteri dan Presiden Timor Leste akan ikut hadir bersama. Semoga setelah itu kita juga produksi massal di Indonesia," kata Mulyadi.
Menurut politisi yang duduk di DPR RI ini, jika Bobibos bisa diproduksi massal dan diedarkan atau diberi kesempatan menjadi energi atau bahan bakar alternatif, setidaknya Indonesia mempunyai delapan keuntungan positif.
Pertama, meringankan dan membantu masyarakat mendapat bahan bakar yang jauh lebih murah dari BBM. Kedua, dari segi kualitas Bobibos memiliki RON 98. Ketiga, bahan bakar ramah lingkungan karena dari nabati. Keempat, menambah pendapatan petani beras karena limbah jeraminya bisa dijual untuk bahan baku. Kelima, membantu meringankan keuangan negara karena impor BBM akan otomatis berkurang.
"Keenam dan ketujuhnya membantu pemerintah mengurangi pengangguran karena kami pasti membuka lapangan kerja yang besar, serta meningkatkan perputaran uang di daerah lebih besar. Yang kedelapan, jika sawah dan jumlah panen ditingkatkan, maka kemandirian energi semakin nyata karena sawah bukan saja jadi tempat kemandirian pangan, tapi bisa jadi sumber kemandirian energi," ucap Mulyadi.

















































