POLISI segera melaksanakan gelar perkara atas peristiwa taksi listrik Green SM yang menerobos perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi Timur. Aksi itu diduga memicu tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) yang menewaskan 16 orang.
Kepala Seksi Pengolahan dan Analisa Korps Lalu Lintas Polri Komisaris Sandhi Widyanoe memperkirakan gelar perkara akan dilaksanakan pekan depan. “Sepengetahuan saya, persiapan gelar perkara berjalan lancar,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu, 29 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sandhi mengatakan dalam gelar perkara itu polisi akan berdiskusi untuk menentukan pihak yang akan melanjutkan penanganan insiden yang menewaskan belasan orang itu. “Mereka akan duduk bersama untuk menentukan apakah perkara ini ditangani Satlantas atau Satreskrim,” kata dia.
Menurut Sandhi, gelar perkara penting dilakukan untuk menentukan strategi penyidikan yang tepat atas kasus ini. Termasuk di antaranya untuk menelusuri dugaan kelalaian sopir serta kewajiban Pemerintah Daerah Bekasi dalam penyediaan palang pintu kereta.
Sebelum melaksanakan gelar perkara, polisi terlebih dahulu melaksanakan traffic accident analysis (TAA) di lokasi kejadian. Penggunaan metode itu bertujuan untuk mengungkap secara detail kronologi insiden tabrakan.
Hingga Rabu siang, polisi mencatat sebanyak 16 perempuan menjadi korban jiwa dalam peristiwa ini. Dia menuturkan sebanyak 90 korban masih dirawat di sejumlah rumah sakit. “Sebanyak 44 pasien sudah kembali dan 46 lainnya diobservasi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto pada Rabu.
Tabrakan antarkereta terjadi di perlintasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 20.57 WIB. Saat itu, KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Insiden bermula ketika sebuah taksi online Green SM mengalami korsleting listrik di tengah perlintasan kereta, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Polri Komisaris Sandhi Wiedyanoe mengatakan peristiwa itu memicu tabrakan awal di jalur. “Terjadilah tabrakan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan tersebut,” ujar Sandhi.
Akibat insiden itu, perjalanan KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Nahas, pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang di jalur yang sama. “Kecepatan 110 kilometer per jam,” kata Sandhi.
Badan KA Argo Bromo Anggrek menembus badan KRL hingga membelah gerbong khusus wanita. Puluhan penumpang yang berada di dalam gerbong itu menjadi korban setelah terhimpit badan kereta.
Vice President Corporate Communications KAI Anne Purba mengatakan seluruh korban meninggal merupakan perempuan. Menurut dia, para korban merupakan perempuan usia produktif yang masih kuliah maupun bekerja.
Selain korban meninggal, Anne menyebut puluhan penumpang lainnya telah dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Anne mengatakan KAI masih mengidentifikasi korban meninggal.

















































