GALERI Soemardja Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pameran tunggal perdana Harry Suliztiarto yang berlangsung 13 Mei–13 Juni 2026 dengan judul Berpihak pada Luka. Karya utama seniman berusia 70 tahun itu berupa patung, sesuai jurusan pilihan kuliahnya dulu di ITB sebagai angkatan 1976 yang lulus pada 1986. Karya seni Harry juga ikut dipengaruhi oleh hobi memanjat sejak usia muda.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebelum masuk ke ruang pameran, pengunjung bisa berinteraksi dengan karya instalasi berjudul "Suluk Satus Bandeman" yang ditempatkan di halaman seberang galeri. Bagaikan wahana permainan, Harry Suliztiarto memajang sepuluh siluet orang setengah badan dalam dua baris dari bahan seng, lalu siapa pun boleh melempari target itu dengan 100 mur yang telah disiapkan dalam kotak. Bunyi benturan logam sontak memecahkan suasana yang tenang berulang-ulang.
Di balik karya yang dicat dengan warna hijau melon itu, Harry sesungguhnya menampilkan situasi yang mencekam. “Itu seperti orang dirajam,” katanya, Rabu 13 Mei 2026.
Kegaduhan pun berlanjut di ruang galeri. Pengunjung bisa menarik tali pada karya "Suluk Manunggal" sekuat tenaga, lalu melepaskannya sehingga papan yang terangkat jatuh terhempas menghantam papan dasar. Begitu pula pada karya "Luk Uluk Regol Kidul Isih Digembok", dimana tarikan balok kayunya dilepaskan untuk menubruk papan kayu yang dipasangi kerincingan.
Pameran tunggal bertajuk "Berpihak pada Luka" karya Harry Suliztiarto berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 13 Mei hingga 13 Juni 2026 di Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat. Dok. Tempo/Anwar Siswadi
Pada beberapa karya, Harry memerlukan bunyi yang keras dari patungnya untuk menyuarakan soal luka yang dialami manusia dalam hubungannya dengan sesama, alam dan lingkungan, serta Tuhan. “Suara itu supaya situasinya menjadi komplet,” kata dia. Sementara karya lain seperti "Lisung Lumengis" tergantung dalam diam.
Unsur gerak pada kekaryaan patung Harry jelas menonjol seperti halnya pada "Suluk Taji", atau "Happily Ever After Basket" yang menggunakan tiga tandu besi bekas pengangkut korban dan jenazah. Walau begitu ia menepis sangkaan patungnya sebagai karya kinetik. Tanpa harus berpihak, seperti pada korban atau manusia terluka, ia menggambarkan sisi gelap manusia yang bisa seketika keluar.
Harry sewaktu mahasiswa pernah membuat heboh saat mengikuti pameran seni rupa seniman muda Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang berlangsung mulai 6 Desember 1979. Saat itu ia membuat patung sosok diri dari ram kawat kandang ayam lalu dilapis baju. Karena terpikir ingin tidak biasa, patung itu secara diam-diam sewaktu malam, dipasang di puncak kubah planetarium. Tepatnya di tombak penangkal petir.
Misi rahasia yang dibantu seorang kawannya yaitu Agoes Resmonohadi, mengandalkan keahliannya memanjat. Mereka harus hati-hati berpegangan pada kawat penangkal petir di atas kubah agar tidak terlepas dan jatuh. Sebelumnya mereka telah mengamati pola patroli petugas keamanan di lokasi agar tidak tertangkap. Saat hari terang dan terlihat banyak orang, patung karya Kelompok Dua dari Seni Rupa ITB itu bikin geger hingga harus diturunkan oleh petugas yang memanjat setelah gagal memakai tangga panjang mobil pemadam kebakaran.
Sebelum ketahuan, Harry dan kawannya telah kabur pakai taksi agar peralatan memanjatnya tidak disita. Selain panitia diinterogasi polisi, seniman Hardi yang malah ditangkap dan ditahan karena dianggap makar. Karyanya berupa gambar sablon wajah diri berpakaian militer dengan judul Presiden RI TH 2001 Suhardi. “Yang jadi berita Hardi bukan saya,” kata Harry.
Pria berjenggot lebat kelahiran Surabaya, 6 Juni 1955, itu menjadi seniman pertama dari rencana pengelola Galeri Soemardja yang menginisiasi pameran tahunan karya alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Selama 37 tahun Harry mengaku tidak berkarya melainkan berkegiatan lain untuk mencari uang.
Selulus kuliah ia hengkang dari dunia seni sambil menekuni hobinya memanjat tebing dan mendirikan Federasi Panjat Tebing Indonesia pada 1988. Selain itu sejak mahasiswa ia telah membuat sekolah panjat tebing Skygers pada 1976. “Bikin sekolah itu karena kesepian supaya banyak teman,” ujarnya.
Kiprah lainnya seperti membentuk Asosiasi Pekerja Ketinggian pada 2007, serta melatih pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dan Angkatan Laut mengatasi medan terjal pada 1983. Ketika punya waktu luang ia membuat sketsa karya dan mulai membuat patung lagi pada 2016.
Tim kurator yang terdiri dari Danuh Tyas, Hazim M. Zarkasyi Hakim, dan Samuel Theodorus Kurniawan, dalam tulisannya menyatakan kekaryaan Harry membangkitkan imajinasi tentang manusia yang terluka sekaligus juga bisa melukai orang lain, atau alam dan lingkungan sekitar. Di titik inilah karya Harry bisa menawarkan ruang refleksi bagi manusia untuk memaknai luka.
ANWAR SISWADI


















































