Kereta Gantung Bakal Dibangun di Prambanan Sleman

3 hours ago 2

DINAS Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan kawasan pariwisata Kecamatan Prambanan bakal dilengkapi wahana kereta gantung senilai Rp 200 miliar.

Rencana itu merupakan inisiatif dari investor swasta untuk mengoptimalkan potensi wisata di wilayah yang dikenal dengan berbagai destinasi, seperti deretan candi hingga obyek Tebing Breksi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kepala DPMPTSP Sleman Triana Wahyuningsih mengungkapkan lintasan kereta gantung ini rencananya akan membentang sepanjang kurang lebih delapan kilometer yang menghubungkan titik-titik strategis pariwisata di wilayah itu.

"Jalurnya diproyeksikan mulai dari kawasan Candi Banyunibo menuju beberapa destinasi wisata unggulan yang berakhir di kawasan Tebing Breksi, sepanjang delapan kilometer," kata Triana ditemui, Kamis, 7 Mei 2026.

Triana menjelaskan jika investasi itu merupakan ide dari investor yang ingin mengembangkan kawasan Yogya timur yang berbatasan dengan Klaten, Jawa Tengah tersebut. Ia membeberkan saat ini investor masih melakukan pengurusan berbagai perizinan yang diperlukan.

Menurut Triana, dari Pemerintah Kabupaten Sleman akan mendukung setiap investasi jika berkaitan dengan pengembangan wisata yang menjaga kelestarian lingkungan dan dapat berdampak pada kesejahteraan warga serta menambah pendapatan asli daerah (PAD).

Dengan adanya wahana kereta gantung itu, kata dia, berarti pajak hiburan dan sebagainya bisa masuk menjadi penghasilan daerah.

Menurutnya, investasi untuk pengembangan kawasan timur Sleman itu potensial. Mengingat Prambanan telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan memiliki aksesibilitas tinggi berkat keberadaan pintu tol Prambanan sebagai hub wisata DIY-Jawa Tengah.

Saat ini, proyek kereta gantung tersebut masih berada dalam proses perizinan yang intensif, terutama menyangkut aspek tata ruang.

Triana menyebutkan bahwa tahapan awal yang wajib dipenuhi oleh investor adalah Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR). Berdasarkan hasil kajian teknis, lokasi proyek telah dinyatakan sesuai untuk pengembangan kategori wisata buatan. 

"Untuk awalnya investasi ini memang harus memiliki KKPR dulu, kesesuaian tata ruang. Kalau tata ruang ini memang sudah sesuai di sana untuk kegiatan pengembangan wisata buatan," kata dia.

Selain persoalan tata ruang, pemerintah daerah juga sedang mendampingi proses perizinan terkait kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. 

Ia menuturkan Bupati Sleman Harda Kiswaya juga telah berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk mencari solusi terbaik dalam investasi itu.

Langkah terakhir dalam rantai perizinan ini melibatkan penggunaan tanah kas desa, yang prosesnya memerlukan persetujuan dari pemerintah provinsi. "Jadi masih berproses untuk perizinan lahannya karena ada penggunaan tanah kas desa yang memang menjadi kewenangan pemerintah provinsi," kata dia. 

Kehadiran kereta gantung ini diharapkan menjadi pelengkap dari berbagai potensi investasi lain di Prambanan, seperti pusat kerajinan, batik, dan souvenir, yang secara kolektif akan mendukung iklim usaha kondusif di Kabupaten Sleman.

Triana menambahkan, investasi di Kabupaten Sleman saat ini memang terus bertumbuh. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sleman, realisasi investasi pada triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp 1,15 triliun yang berasal dari 2.637 proyek investasi.

Capaian ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, yakni sebesar 16,60 persen secara year on year dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp987 miliar, serta melonjak hingga 93,29 persen secara quarter on quarter dibandingkan triwulan IV Tahun 2025 yang hanya sebesar Rp 595 miliar. 

Kinerja positif ini berkontribusi sebesar 57 persen terhadap total realisasi investasi di seluruh DIY yang berjumlah Rp 2,014 triliun. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi, ketersediaan infrastruktur, dan potensi pasar di Sleman tetap tinggi.

Investasi tersebut secara rinci terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 638,7 miliar dari 2.306 proyek dan Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp 512,3 miliar dari 331 proyek. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |