TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menyatakan program biodiesel 50 persen (B50) berpotensi mengurangi penerimaan devisa negara sebesar US$ 2,7 miliar per tahun karena penurunan volume ekspor CPO. Angka itu didasarkan asumsi harga rata-rata CPO CIF Rotterdam sebesar US$ 1.356 per metrik ton pada awal 2026.
ISEAI merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang memproyeksikan ekspor kelapa sawit nasional akan terpangkas sekitar 2 juta ton pada paruh kedua 2026, atau mendekati 4 juta ton dalam setahun.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Hal ini menciptakan paradoks: kebijakan untuk menghemat devisa impor solar justru memotong devisa ekspor dari sektor andalan pertanian nasional,” ISEAI dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 Juli 2026.
ISEAI menilai implementasi program B50 di tengah stagnasi produksi bahan baku akan memicu krisis tata kelola komoditas kelapa sawit. “Dampak langsung dari pergeseran alokasi ini adalah penurunan kapasitas ekspor CPO Indonesia ke pasar internasional,” kata analis senior ISEAI, Rony P. Sasmita.
Berdasarkan riset ISEAI, program B50 yang diresmikan pada 9 Juli 2026 ini dilaksanakan ketika pertumbuhan pasokan minyak sawit mentah atau CPO Indonesia sedang stagnan. Selama lima tahun terakhir, ISEAI mencatat produksi CPO Indonesia mendatar di kisaran 48-51 juta ton per tahun akibat lambatnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan penurunan produktivitas tanaman.
Meskipun produksi CPO pada 2025 tumbuh 7,26 persen mencapai 51,66 juta ton, cadangan stok akhir domestik menyusut tajam sebesar 19,79 persen menjadi hanya 2,068 juta ton karena serapan domestik yang sangat tinggi.
Walhasil, alokasi CPO yang semakin banyak untuk kebutuhan dalam negeri khususnya untuk biodiesel (B50) akan mengakibatkan penurunan kapasitas ekspor.
Dari total konsumsi domestik sebanyak 2,141 juta ton per April 2026, mayoritas dipakai untuk biodiesel dengan kebutuhan sebesar 1,137 juta ton. Kebutuhan terbesar kedua adalah sektor pangan sebanyak 831 ribu ton. Sementara sektor oleokimia membutuhkan sekitar 173.000 ton.
















































