Algorithm: Universal Language jadi Lini Adibusana Satu Dekade Wilsen Willim

1 hour ago 3

CANTIKA.COM, Jakarta - Satu dekade berkarya di industri mode menjadi momen spesial bagi desainer Wilsen Willim. Melalui pergelaran bertajuk Algorithm: Universal Language, ia merayakan perjalanan kreatifnya dengan menghadirkan koleksi yang memadukan kekayaan wastra Nusantara, inovasi material berkelanjutan, hingga sentuhan teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Fashion show yang digelar di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta, pada 8 Juli 2026 ini sekaligus menjadi panggung peluncuran lini adibusana (couture) perdana dari label Wilsen Willim.

Alih-alih sekadar menampilkan koleksi retrospektif, Wilsen memilih menggali filosofi dasar dari proses menenun. Bersama kolaborator lamanya, musisi sekaligus kreator Ican Harem, ia menjadikan algoritma sebagai benang merah koleksi. Menurutnya, pola tenun yang terbentuk dari susunan benang lungsi dan pakan sesungguhnya merupakan sebuah sistem yang universal, layaknya angka yang dipahami oleh semua orang di berbagai belahan dunia.

"Seperti halnya denim, semua orang mengenal dan menggunakan angka. Kali ini keduanya saya pertemukan," ujar Wilsen Willim.

Merayakan Wastra Lewat Perspektif Baru

Wilsen Willim/Foto: Instagram/Wilsen Willim

Dalam koleksi ini, Wilsen kembali mengeksplorasi material yang telah menjadi ciri khasnya, yakni benang denim daur ulang hasil pengolahan Ecotouch. Material tersebut kemudian dipadukan dengan beragam kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain kembali menggunakan tenun sutra Garut yang pernah ia eksplorasi sebelumnya, kali ini Wilsen memperluas kolaborasinya dengan menghadirkan Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Songket Jembrana dari Bali, serta Songket Minang asal Halaban, Sumatra Barat.

Baginya, penggunaan wastra lokal bukan hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin di berbagai daerah.

"Inovasi ini bukan hanya soal melestarikan wastra. Penggunaan benang daur ulang produksi dalam negeri juga membantu mengurangi limbah tekstil sekaligus menjawab tantangan kelangkaan benang yang sering dihadapi para penenun," jelas Wilsen.

AI Mengubah Motif Tenun Menjadi Musik

Salah satu aspek paling menarik dari presentasi Algorithm: Universal Language adalah pemanfaatan teknologi AI dalam proses kreatifnya. Motif dari keempat kain tenun dipindai menggunakan kamera, lalu diterjemahkan menjadi pola algoritma dengan bantuan artificial intelligence.

Data tersebut kemudian dikirim ke studio Ican Harem di Bali untuk diolah menjadi komposisi musik. Hasilnya berupa rangkaian instrumen, ritme, hingga tempo yang merepresentasikan struktur tenun, sehingga musik yang mengiringi peragaan busana benar-benar lahir dari motif kain yang ditampilkan di atas runway.

Pendekatan multidisiplin ini memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa teknologi tanpa kehilangan identitasnya.

Wilsen Willim rayakan 10 tahun berkarya lewat koleksi Algorithm: Universal Language, padukan wastra dan teknologi AI di Hotel Mulia Senayan, Rabu, 8 Juli 2026/Foto: Doc. Wilsen Willim

60 Tampilan Couture dengan Sentuhan Rebel

Sebanyak 60 tampilan busana pria dan wanita diperagakan dalam koleksi ini. Siluet yang ditawarkan mencerminkan karakter khas Wilsen Willim yang memadukan konstruksi modern dengan elemen tradisional.

Material tenun dipadukan dengan batik tulis Cirebon bermotif eksklusif yang dikembangkan khusus oleh tim studio Wilsen Willim. Berbagai item seperti kemeja, jaket, rok, celana, apron, bib, korset, hingga kain jarik tampil dalam interpretasi baru yang terasa kontemporer.

Palet warna didominasi nuansa biru yang terinspirasi dari denim daur ulang, kemudian diperkaya dengan aksen emas, perak, perunggu, hitam, putih, abu-abu, hingga biru elektrik yang memberikan kesan dramatis.

Keunikan lainnya terlihat dari perpaduan unsur wastra yang elegan dengan sentuhan punk dan rebel. Harness kulit, corset belt, biker jacket, rok berpotongan tinggi, hingga detail metalik menjadi kontras menarik yang memperkuat karakter koleksi. Sementara itu, elemen tradisional seperti kerah janggan, beskap, hingga siluet menyerupai kebaya Kartini tetap dipertahankan dalam interpretasi yang lebih modern.

Koleksi ini juga didukung berbagai kolaborasi dengan jenama lokal, di antaranya aksesori logam dari Subeng Klasik, aksesori kulit dari Peau, serta alas kaki rancangan khusus bersama Bocorocco.

Perjalanan 10 Tahun yang Berlanjut

Perayaan satu dekade Wilsen Willim tidak berhenti di atas runway. Setelah fashion show, koleksi ini juga dipresentasikan kembali melalui sesi Re-See di Rumah Heritage Menteng by Plataran agar para pencinta mode dapat mengamati detail craftsmanship setiap busana dari jarak dekat.

Tak hanya itu, perjalanan eksplorasi Wilsen ke empat daerah penghasil tenun turut diabadikan dalam film dokumenter berjudul Reinventing Tenun: Journey to Algorithm yang akan tayang perdana pada 21 Agustus 2026 di XXI Plaza Indonesia.

Bagi Wilsen, seluruh rangkaian proyek ini merupakan bentuk komitmennya dalam menjaga relevansi wastra Indonesia di tengah perkembangan teknologi dan industri mode global.

"Saya ingin menunjukkan bahwa wastra tradisional bisa terus hidup melalui pendekatan teknologi modern sehingga semakin dekat dengan generasi muda. Ketika permintaan terhadap busana berbahan wastra meningkat, produksi kain tradisional juga ikut berkembang. Dampaknya bukan hanya bagi ekonomi para penenun, tetapi juga mendorong generasi muda untuk melanjutkan warisan budaya tersebut," tutup Wilsen Willim.

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |