GEMPA masih mengguncang Pulau Batang Dua di Ternate, Maluku Utara, hingga hari ini, Jumat 10 April 2026. Gempa kuat M7,6 tercetus dari sistem subduksi ganda yang berada di Laut Maluku sebelah utara itu pada 2 April lalu.
Gempa terkini di Batang Dua dicatat BMKG terjadi pagi tadi, pukul 4.26 WIB atau 6.26 waktu setempat. Berasal dari kedalaman 6 kilometer, gempa dari laut itu terekam memiliki Magnitudo 3,8 dengan intensitas guncangan pada skala III-IV MMI.
Pada skala III MMI guncangan gempa bisa dirasakan nyata di dalam rumah seakan ada truk melintas. Pada IV MMI, guncangan gempa terlukiskan lewat pintu dan jendela yang berderik.
Lokasi pusat gempa M7,6 pada 2 April 2026. Pusat gempa berada di selatan Pulau Batang Dua yang termasuk wilayah Kota Ternate, Maluku Utara. Dok. BMKG
Gempa juga mengguncang Batang Dua pada Senin dan Selasa lalu, 6-7 April. Kedua gempa diukur BMKG berkekuatan M4,0 namun dengan intensitas guncangan yang dirasakan berbeda.
Pada gempa Senin lalu, intensitas guncangan dirasakan di Batang Dua pada skala II-III MMI. Saat itu pusat gempa berada di laut pada kedalaman 21 kilometer. Sedangkan pada Selasa bisa dirasakan pada skala IV-V MMI dan juga di Ternate II-III MMI, dengan kedalaman pusat gempa 36 kilometer.
Pada skala II MMI guncangan gempa diilustrasikan hanya membuat bergoyang benda-benda ringan yang digantung. Pada V MMI, gempa sudah tergolong merusak karena getarannya bisa dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang, dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.
Sementara itu, gempa M4,5--diperbarui dari info awal M4,7--mengguncang hingga merusak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis dinihari, 9 April 2026. Pusat gempanya berada di laut, 22 kilometer tenggara Larantuka.
Warga melihat bangunan rumah yang rusak akibat gempa di Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 9 April 2026. Antara/Mega Tokan
Intensitas guncangan gempa itu berada pada skala IV MMI di Adonara dan Solor Timur. Sedangan Larantuka merasakannya pada skala III MMI. "Skala IV MMI tapi berdampak merusak berarti struktur bangunan sangat lemah," kata Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia yang juga anggota Pusat Studi Gempa Nasional Daryono mengomentari.


















































