Bali Ocean Days 2026 Hasilkan Deklarasi Selamatkan Laut

13 hours ago 10

Info Event - Bali Ocean Days 2026 ditutup bukan dengan euforia, melainkan keheningan. Pemutaran film Ocean with David Attenborough - naturalist legendaris dunia asal London dan penyiar dokumenter alam paling berpengaruh selama lebih dari enam dekade, menghadirkan gambar yang sulit dilupakan: jaring raksasa menyeret dasar laut, mematahkan karang, menghancurkan habitat, dan menyisakan bycatch yang mati sia-sia.

Pesannya tegas dalam seruan perilaku manusia terhadap alam dan bagaimana tanggung jawab bersama menghentikan sampah plastik masuk ke sungai dan laut, melindungi terumbu karang dan mangrove, membalik krisis overfishing, meningkatkan kesadaran publik dan komunitas pesisir, serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan dan agenda SDG 14 - Life Below Water.

Dalam dua hari forum Bali Ocean Days yang ke 3 ini, memperlihatkan lebih dalam bukan hanya Indonesia bahwa krisis laut jauh lebih berlapis. Suhu laut meningkat, karang tertekan oleh praktik wisata, sampah mengalir dari sungai, dan tata kelola yang belum seragam membuat tekanan itu saling memperparah. Forum ini menjadi pertemuan akrab menteri, ilmuwan, pelaku industri, investor, komunitas, dan inovator- untuk menyatukan arah kerja.

Nada kegentingan muncul sejak pembukaan. Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Laksamana Madya (Purn) TNI Dr. Didit Herdiawan Ashaf  menyampaikan pemanasan laut Indonesia meningkat empat kali lipat. Karang memutih, ekosistem terganggu, spesies kunci terancam, dan budaya pesisir terdampak.

Di sesi lain, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Rasio Ridho Sani yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup menekankan penegakan, restorasi, sains, dan pengendalian sampah sistemik melalui Extended Producer Responsibility (EPR).

Dari sektor pariwisata, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa Ermawati, menegaskan perlunya melindungi destinasi bawah laut. Daya tarik Bali, Komodo, Raja Ampat, dan Wakatobi hanya dapat bertahan jika praktik wisata tunduk pada daya dukung ekosistem, bukan sebaliknya. Ada satu pesan dari tiga kementerian yakni laut tak bisa lagi ditangani secara sektoral.

Sebanyak 40 narasumber dari 11 negara dari berbagai latar belakang untuk berbagi data, network jaringan dan best practice lewat enam sesi utama Bali Ocean Days.  Berikut sejumlah kebijakan konkret yang dihasilkan:

Tata kelola dan negara kepulauan menjelaskan mengapa penegakan aturan menjadi fondasi perlindungan laut.

Iklan

Karang dan ekowisata menunjukkan urgensi buoy tambat, pembatasan pengunjung, dan edukasi operator.

Komunitas pesisir menegaskan pentingnya pengawasan berbasis masyarakat.

Sains dan teknologi laut memberi dasar kebijakan berbasis data dan daya dukung ekosistem.

Perikanan berkelanjutan menjawab langsung seruan menghentikan trawling, bycatch, dan praktik tangkap merusak.

Sistem sampah dan plastik mengingatkan bahwa laut yang kotor sering bermula dari darat.

Ketua panitia, Yoke Darmawan, menegaskan, Bali Coral Reef Protection Declaration bukan dokumen simbolik. “Ini adalah daftar pekerjaan rumah yang harus segera diterjemahkan menjadi aturan, pengawasan, dan praktik di laut.,” ujarnya.

Bali Ocean Days 2026 menutup forum dengan satu arah yang jelas: melindungi karang, menghentikan plastik ke laut, serta menghentikan trawling dan overfishing. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai arah kerja bersama menuju masa depan di mana Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menempatkan kesehatan laut sebagai bagian dari identitas, ekonomi, dan budayanya. Sampai bertemu di Bali Ocean Days ke-4, Januari 2027.(*)

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |