Budaya Minum Teh Bisa Perkuat Hubungan Diplomatik

5 hours ago 2

MENTERI Kebudayaan Fadli Zon menilai bahwa teh yang menjadi salah satu budaya Tiongkok bisa menjadi medium dalam mempererat hubungan masyarakat termasuk dengan Indonesia. “Teh yang sederhana namun penuh makna dapat menjadi jembatan antarperadaban. Budaya memiliki kekuatan untuk membangun perdamaian, memperkuat kerja sama internasional, dan menciptakan ruang dialog yang saling menghormati,” ujar Fadli Zon seperti dilansir Antara.

Ia menilai bahwa teh yang berasal dari Tiongkok juga telah berkembang menjadi bahasa budaya universal yang melampaui batas negara, generasi, dan latar belakang masyarakat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri peringatan International Tea Day pada 21 Mei bertajuk “Tea for Harmony, Shared Beauty” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, tema ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman harus dipandang sebagai kekuatan mempererat kemanusiaan bersama.

Ilustrasi pesta minum teh. Shutterstock.com

Fadli juga mengapresiasi keberhasilan Tiongkok dalam mendaftarkan Traditional Chinese Tea Processing Techniques and Associated Social Practices ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2022 sebagai bentuk komitmen menjaga warisan budaya hidup.

Ia pun mengingatkan bahwa Indonesia juga memiliki tradisi teh yang kaya, bagian dari sejarah panjang Nusantara sebagai salah satu wilayah penghasil teh penting di dunia. Menurutnya, budaya teh Indonesia terus berkembang, mulai dari praktik tradisional di berbagai daerah hingga budaya minum teh yang kini semakin dekat dengan generasi muda.

Relasi budaya Indonesia dan Tiongkok telah berlangsung selama berabad-abad melalui jalur perdagangan, migrasi, dan pertukaran budaya yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan seni dan tradisi di Indonesia, salah satunya dapat dilihat pada motif batik pesisir, perkembangan wayang kulit, hingga kesamaan artistik antara Opera Peking dengan pertunjukan tradisional Indonesia.

Selain itu, budaya jamu Indonesia juga dinilai memiliki titik temu dengan tradisi teh dan pengobatan tradisional Tiongkok karena sama-sama berakar pada pengetahuan herbal, kesehatan preventif, dan praktik berbasis komunitas.

Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong menyampaikan bahwa teh sejak lama menjadi medium peradaban dan pembawa pesan perdamaian lintas negara. Menurutnya, budaya teh mengandung filosofi keseimbangan antara manusia dan alam, sekaligus mencerminkan nilai inklusivitas dan kebersamaan antarbangsa. “Dalam upacara minum teh, setiap orang menikmati teh yang sama dan disajikan dengan penuh penghormatan. Teh mengajarkan harmoni, saling berbagi manfaat, dan mempererat koneksi antarbangsa,” ujar Wang Lutong.

Teh telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023 – 2024 juga menunjukkan bahwa teh merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih. Kebiasaan mengonsumsi teh juga tercermin dalam riset Roy Morgan (Single Source - Indonesia), yang menunjukkan bahwa teh menjadi salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia dan tersedia di 95 persen - 97 persen dapur keluarga.

Kualitas Teh Terbaik Ditentukan oleh Sumbernya

Tidak semua teh diproses melalui cara pengolahan yang sama. Dalam dunia teh, kualitas tidak hanya ditentukan saat proses pengolahan berlangsung, tetapi sudah dibentuk sejak daun teh muda masih berada di perkebunan. Mulai dari kondisi alam, kegiatan pemeliharaan tanaman, cara pemetikan, hingga penanganan setelah panen menjadi faktor penting yang menentukan karakter akhir teh yang dihasilkan.

Menurut Organisasi PBB yang mengurus bagian pangan dan pertanian (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan. Perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat dan menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi. “Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” kata Devyana Tarigan, Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat.

Kebun Teh Sukawana di Kabupaten Bandung Barat. Jundi Adabi untuk Tempo

Kabut di kawasan pegunungan juga membantu menyaring paparan sinar matahari langsung, sehingga tanaman dapat berkembang lebih optimal tanpa menghasilkan sensasi yang terlalu tajam saat diminum.

Devyana mengatakan timnya berusaha menjaga standar bahan baku teh tetap konsisten, mulai dari perkebunan. Pemilihan kebun teh di sejumlah wilayah dataran tinggi Jawa Barat, mulai dari Cukul di Pangalengan, Neglasari di Garut, Gunung Satria dan Sambawa di Tasikmalaya, hingga Gunung Manik, Gunung Rosa Djaya, dan Gunung Cempaka di Cianjur dilakukan karena wilayah tersebut memiliki suhu sejuk, serta kelembaban yang mendukung pertumbuhan daun teh muda yang berkualitas. “Menghasilkan teh dengan cita rasa yang konsisten juga membutuhkan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda mana yang dipetik, kapan waktu terbaik untuk memetik, hingga bagaimana daun teh muda diperlakukan setelah dipetik sehingga memenuhi standar layak olah,” kata Devyana.

Daun teh muda menjadi bagian yang paling dijaga karena memiliki kandungan dan karakter rasa terbaik. Devyana bercerita proses pemetikan bahan baku teh dilakukan oleh tenaga terampil secara manual dan menggunakan mesin petik baterai yang ramah lingkungan dengan tetap menjaga kualitas daun teh yang layak olah serta menjaga kesehatan tanaman teh agar produktivitas tetap tinggi.

Setelah dipetik, daun teh muda juga tidak dapat dibiarkan terlalu lama sebelum diproses. Paparan suhu dan udara dapat mengubah profil aroma dan kesegaran daun teh muda, sehingga kecepatan penanganan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas. Karena itu proses dari perkebunan hingga pengolahan perlu berjalan dalam sistem yang saling terhubung agar kualitas daun teh muda tetap terjaga sejak awal. "Kualitas teh sejati tidak pernah muncul dari proses yang terburu-buru," katanya.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |