Ratusan Akademisi di 23 Universitas di Amerika Utara Nobar Film Barang Panas

6 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - Film dokumenter Barang Panas (versi bahasa Inggris: Hot Stuff) diputar serentak di 23 universitas di Amerika Serikat dan Kanada pada 31 Maret 2025. Film ini mengungkap persoalan proyek eksplorasi dan eksploitasi geotermal di Indonesia, dan menjadi bagian dari rangkaian film dokumenter tentang transisi energi di Indonesia seperti Sexy Killers (2019) dan Bloody Nickel (2024).

Penayangan serentak atau multicast dilanjutkan dengan diskusi lintas universitas. Penyelenggaranya, yakni Konsorsium Pendidikan Pasca-sarjana Kajian Asia Tenggara (GETSEA), menghadirkan langsung dalam diskusi tersebut sutradara Dandhy Laksono di Pusat Studi Asia Tenggara University of Michigan, AS. Dandhy ditemani Cypri Paju Dale Dale yang mewakili Sunspirit for Justice and Peace sebagai salah satu produser.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Adapun peserta dari 23 universitas di Amerika Utara bergabung lewat aplikasi video Zoom. Mereka tersebar antara lain di Harvard University, New York University Wagner, dan University of California Berkeley di Amerika Serikat, serta University of Toronto dan University of Victoria di Kanada.

"Nobar (nonton bareng) serentak dan diskusi di 23 kampus Amerika dan Kanada adalah apresiasi besar bagi kami tim produksi film 'Barang Panas'," kata Dandhy dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Jumat 4 April 2025. 

Dia menyebut film yang dibuat sambil keliling naik motor itu memiliki kekuatan riset dan kolaborasi yang dapat menutupi kekurangan lain di aspek produksi. Sedangkan kemasannya yang menggunakan gaya editorial terbukti mampu lebih banyak memancing diskusi dari multi-pihak dibanding gaya advokasi yang kaku.

"Kami juga senang karena isu transisi energi berkeadilan diperbincangkan, alih-alih merespons film ini dengan komentar, 'Batubara ditolak, geotermal pun ditolak. Jadi maunya apa?," kata Dandhy merujuk isi diskusi tentang film yang rilis 2023 tersebut.

Dalam keterangan tertulis yang sama, Cypri mengatakan bahwa Barang Panas mengungkap apa yang terjadi di komunitas-komunitas di sepanjang jalur cincin api di seluruh Indonesia. Film berdurasi 1 jam 22 menit itu menyorot dari dekat bagaimana komunitas-komunitas di Wae Sano, Mataloko, Poco Leok, dan Ulumbu (seluruhnya di Flores, NTT), juga komunitas di Dieng, Jawa Tengah, dan Sorik Marapi, Sumatera Utara, sebenarnya berkontribusi paling kecil terhadap perubahan iklim.

"Tapi mereka dipaksa merelakan ruang hidupnya selama ini untuk menjadi 'zona pengorbanan baru' untuk menjadi tumbal bagi produksi energi demi mengatasi krisis iklim," tutur Cypri. Di menegaskan, "Kalau ada yang dikorbankan, itu bukan transisi energi berkeadilan yang kita inginkan."

Chris Hulshof, koordinator simulcast GETSEA menilai acara luar biasa sukses karena diikuti ratusan akademisi dan mahasiswa di 23 universitas--terbesar di antara tahun-tahun GETSEA Simulcast sebelumnya. Film Barang Panas sangat populer di kalangan akademisi, menurut dia, karena memberikan sudut pandang berbeda yang sangat dibutuhkan dalam pembahasan mengenai energi geotermal yang sering kali tidak memiliki wacana yang memadai. 

"Film ini membuka wawasan banyak orang — termasuk saya sendiri," katanya sambil menambahkan Barang Panas membantunya berhenti melihat dari kejauhan dan mengamati dari dekat masalah yang sebenarnya, "Bahwa pemanfaatan energi geotermal membahayakan kelangsungan hidup masyarakat sekitarnya." 

Sebagai catatan tambahan, film Barang Panas (Hot Stuff) menjadi salah satu dari 23 film dari atau tentang Asia yang tayang di Film Expo pada konferensi Association of Asian Studies (AAS) yang berlangsung di Columbus, Ohio, 13-16 Maret 2025. Konferensi tahunan AAS ini dihadiri oleh 3.300 akademisi dunia di bidang ilmu sosial yang mengkaji tentang Asia.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |