Fakta Menarik Rumah SukkhaCitta, Hadirkan Kehangatan Desa di Belantara Kota

2 hours ago 1

CANTIKA.COMJakarta - Setelah satu dekade, SukkhaCitta resmi membuka kembali flagship store-nya dengan wajah baru. Bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-10 pada 11 Juni 2026, ruang baru ini menjadi perwujudan nyata filosofi farm-to-closet yang selama ini menjadi fondasi brand tersebut.

Lebih dari sekadar toko, Rumah SukkhaCitta dirancang sebagai sebuah "rumah" yang mempertemukan dua dunia yakni desa-desa tempat setiap pakaian dibuat dan para pelanggan yang mengenakannya. Untuk pertama kalinya, seluruh perjalanan sebuah busana, mulai dari lahan pertanian hingga lemari pakaian dapat dirasakan dalam satu ruang yang sama.

Merayakan Satu Dekade Perjalanan 

Memasuki Rumah SukkhaCitta, pengunjung diajak meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta sejenak. Interiornya didominasi material alami dengan atap kayu bertingkat yang terinspirasi dari struktur joglo Jawa. Tiang-tiang kayu yang dipahat secara manual, panel batik pewarna alami, serta berbagai elemen yang sengaja dibiarkan menampilkan tekstur aslinya menciptakan suasana hangat layaknya rumah di pedesaan.

Ruang yang dirancang oleh AGo Architects tersebut menjadi representasi filosofi SukkhaCitta tentang kemewahan yang berbeda. Bagi brand ini, kemewahan bukanlah tentang eksklusivitas atau jarak, melainkan tentang kedekatan dengan asal-usul sebuah produk dan cerita di balik pembuatannya.

"Kami ingin menciptakan ruang yang membuat orang langsung merasakan kehangatan desa begitu mereka melangkah masuk. Kehangatan para perajin, proses pembuatan, dan tangan-tangan yang menciptakan setiap karya," ujar Anastasia Setiobudi, Creative Director SukkhaCitta.

Sementara itu, Denica Riadini, Founder dan CEO SukkhaCitta, mengenang perjalanan yang dimulai satu dekade lalu dari sebuah pertanyaan sederhana: apakah pakaian yang kita kenakan bisa mengubah kehidupan seseorang?

"Saya datang ke desa-desa dengan keyakinan bahwa saya memiliki sesuatu untuk diberikan. Namun yang saya temukan justru sebaliknya. Para ibu perajin menyimpan begitu banyak kebijaksanaan yang selama ini terlupakan. Rumah SukkhaCitta menjadi ruang yang menghadirkan kembali kebijaksanaan itu ke tengah kota agar lebih banyak orang bisa terhubung kembali dengan hal-hal yang benar-benar penting," katanya.

Filosofi Tumpang Sari

Konsep keberlanjutan yang menjadi identitas SukkhaCitta juga diterapkan dalam pembangunan flagship terbarunya. Inspirasi utamanya berasal dari praktik pertanian tradisional Indonesia, Tumpang Sari, yakni metode menanam berbagai jenis tanaman secara berdampingan agar saling mendukung pertumbuhan satu sama lain sekaligus menjaga kesehatan tanah.

Prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam proses pembangunan Rumah SukkhaCitta melalui kolaborasi berbagai pihak yang saling melengkapi keahlian masing-masing.

Proyek konstruksi dikerjakan bersama Intereka sebagai kontraktor utama, sementara desain furnitur yang mengajak pengunjung untuk lebih rileks dan menikmati ruang dikerjakan oleh Santai. Struktur kayunya dirancang oleh Timberlab di Demak, Jawa Tengah, yang mengolah kayu menjadi konstruksi yang tahan lama sekaligus mampu menyimpan karbon yang telah diserap pohon selama masa hidupnya.

Seluruh kayu keras yang digunakan berasal dari hutan bersertifikasi melalui Buana Triarta, perusahaan yang selama tiga dekade menerapkan sistem pelacakan asal-usul material secara transparan.

"Kami menghabiskan sepuluh tahun mempelajari bagaimana melacak sehelai kapas dari benih hingga menjadi pakaian. Kami tidak bisa menerima standar yang lebih rendah untuk material yang menopang rumah kami sendiri," kata Denica.

Menurutnya, setiap balok kayu yang digunakan memiliki jejak asal yang jelas, sama seperti setiap kain yang diproduksi oleh SukkhaCitta.

Dari Pertanian hingga Pemberdayaan Perempuan

Re-opening store SukkhaCitta di ASHTA, Kamis, 18 Juni 2026/Foto: Doc. SukkhaCitta

Filosofi Tumpang Sari juga menjadi dasar seluruh ekosistem bisnis SukkhaCitta. Melalui yayasan nirlaba yang mereka jalankan, Rumah SukkhaCitta telah mengembangkan sekolah kerajinan di berbagai wilayah Jawa, Bali, dan Flores untuk membantu para perempuan perajin memperoleh penghasilan yang layak dan kemandirian ekonomi.

Di sektor pertanian, kapas ditanam secara organik berdampingan dengan berbagai tanaman pendamping yang membantu memulihkan kesuburan tanah dan menjaga biodiversitas.

Pendekatan yang sama diterapkan dalam membangun kemitraan bisnis, di mana kolaborasi dipandang sebagai cara untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

Meski pembangunan flagship ini berlangsung di tengah situasi ekonomi dan politik yang penuh tantangan, SukkhaCitta memilih untuk tetap melangkah maju.

"Tujuan kami bukan sesuatu yang dikorbankan saat masa sulit. Justru tujuan itulah yang membuat kami terus bergerak. Para ibu perajin, komunitas, dan tanah tempat semuanya bermula adalah alasan kami terus membangun hingga hari ini," ujar Denica.

Pilihan Editor: SukkhaCitta Ajak Mengenal Perjalanan Panjang Asal Usul Pakaian Melalui Pameran

ECKA PRAMITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |