WFH ASN Tiap Jumat: Solusi Work Life Balance atau Justru Menambah Mental Load Perempuan?

3 hours ago 2

CANTIKA.COM, Jakarta - Kebijakan work from home (WFH) tiap Jumat untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dikabarkan berlaku pada 1 April 2026 dan langsung memicu pro kontra. Pemerintah menegaskan bahwa skema WFH ASN ini merupakan bagian dari transformasi budaya kerja dan efisiensi energi, sambil tetap memastikan layanan publik tidak terganggu. Sejumlah sektor layanan publik dan sektor strategis pun dikecualikan dari aturan ini.

Di atas kertas, WFH tiap Jumat terdengar seperti kabar baik. Tidak perlu terjebak macet, lebih hemat ongkos transportasi, lebih dekat dengan rumah, dan secara teori bisa memberi ruang untuk hidup yang lebih seimbang.

Namun bagi banyak perempuan yang juga memegang peran besar di rumah, kerja dari rumah tidak selalu berarti kerja lebih ringan.

Pasalnya, saat meja kerja pindah ke rumah, bukan hanya bicara laptop dan rapat daring, tetapi beban tak kasatmata yang selama ini sudah mereka pikul, seperti mengingat jadwal anak, memikirkan stok dapur, memastikan kebutuhan rumah berjalan, sembari hadir penuh sebagai pekerja profesional.

Lantas, apakah WFH tiap Jumat adalah solusi work life balance, atau justru hanya menambah mental load perempuan?

Istilah mental load makin sering dibicarakan dalam lingkup perempuan, rumah tangga, pengasuhan, hingga dunia kerja. Perlu diketahui, mental load adalah beban pikiran yang muncul dari aktivitas 'mengelola semuanya' secara terus-menerus. Mulai dari merencanakan, mengingat, mengatur, mengantisipasi, sampai memastikan segala hal berjalan lancar.

Kamu mungkin melihat seseorang hanya duduk di depan laptop untuk bekerja, kenyataannya pikirannya sedang memproses banyak hal sekaligus, misalnya anak sudah makan atau belum, jadwal meeting bentrok dengan jadwal jemput, bahan makanan di rumah cukup sampai akhir pekan atau tidak, atau deadline kantor masih aman atau justru menumpuk.

Dalam banyak pembahasan internasional, mental load sering dikaitkan dengan invisible labor atau beban tak terlihat, karena pekerjaan ini tidak selalu tampak, tapi sangat menguras energi.

Mental load berfokus pada tanggung jawab kognitif. Siapa yang terus mengingat, merencanakan, dan memegang kendali atas berbagai urusan harian. Sedangkan invisible labor bisa mencakup mental load plus kerja emosional.

Lebih lanjut, Taylor and Francis menyebut mental load sebagai kombinasi dari cognitive labor dan emotional labor, yang menjelaskan mengapa beban ini terasa melelahkan meski tidak selalu terlihat sebagai “pekerjaan” dalam arti tradisional.

Ilustrasi perempuan bekerja dari rumah. (Pixabay/Free-Photos)

Mengapa WFH Bisa Terasa Lebih Berat untuk Perempuan?

WFH sering dipromosikan sebagai bentuk fleksibilitas modern. Dan memang, dalam banyak situasi, pola kerja fleksibel bisa sangat membantu. Tetapi ada satu realita yang tak bisa diabaikan, yaitu rumah belum tentu menjadi ruang kerja yang netral.

Bagi banyak perempuan, hunian adalah tempat di mana berbagai peran bertemu seperti pekerja, ibu, pasangan, pengatur rumah tangga, hingga 'project manager' keluarga.

Ketika WFH terjadi, batas antara jam kerja dan jam mengurus rumah menjadi semakin kabur. Alih-alih punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri, sebagian perempuan justru merasa lebih mudah terdistraksi, sulit fokus, dan tetap harus memikirkan kebutuhan domestik di sela pekerjaan kantor.

Penelitian dan laporan internasional juga menunjukkan bahwa kerja fleksibel dan telework bisa punya dua sisi, yakni membantu, tetapi di situasi lain juga berpotensi memperkuat pola lama di mana perempuan tetap menanggung porsi besar pekerjaan domestik dan pengasuhan.

Bahkan, OECD mencatat pengaturan kerja fleksibel dapat mendukung partisipasi kerja, tetapi juga bisa mengukuhkan pembagian kerja rumah tangga yang timpang jika tidak disertai redistribusi peran di rumah.

Artinya, WFH tidak otomatis setara dengan work life balance. Jika struktur di rumah tidak ikut berubah, yang terjadi justru bisa sebaliknya, perempuan bekerja dari rumah, sambil tetap memikul urusan di dalam hunian.

Saat Jumat WFH Bukan Hari Santai, Tapi Hari Multitasking

Ada anggapan bahwa Jumat WFH akan terasa lebih santai karena atmosfer akhir pekan sudah mulai terasa. Tapi dalam realita banyak perempuan, justru hari Jumat bisa menjadi hari paling padat secara mental.

Kenapa? Karena Jumat sering kali juga menjadi hari untuk menutup pekerjaan mingguan, merapikan urusan rumah menjelang akhir pekan dan menuntaskan hal-hal kecil yang tertunda selama hari kerja.

Dengan kata lain, Jumat WFH bisa berubah menjadi 'hari menuntaskan semuanya'. Secara kasatmata, seseorang memang sedang bekerja dari rumah. Tetapi di balik itu, ada begitu banyak keputusan kecil yang harus diambil sepanjang hari.

Dan justru keputusan-keputusan kecil inilah yang sering menjadi sumber kelelahan mental. Inilah mengapa banyak perempuan merasa lelah, padahal “tidak ke mana-mana."

Benarkah WFH Bisa Membantu Work Life Balance? Jawabannya: bisa, tetapi tidak otomatis.

WFH tetap punya banyak potensi positif, terutama jika dijalankan dengan sistem yang sehat. Beberapa manfaat yang paling terasa antara lain:

1. Mengurangi waktu dan stres perjalanan

Tidak harus berangkat pagi-pagi, menghadapi kemacetan, atau pulang dalam kondisi kelelahan bisa memberi tambahan energi yang sangat berarti.

2. Memberi ruang ritme hidup yang lebih manusiawi

WFH bisa membantu sebagian perempuan punya pagi yang tidak terlalu terburu-buru, makan siang yang lebih tenang, atau jeda pendek untuk bernapas di tengah hari kerja.

3. Lebih hemat biaya harian

Transportasi, makan di luar, hingga kebutuhan penunjang mobilitas bisa berkurang.

4. Membuka peluang pembagian peran yang lebih setara

Jika pasangan juga ikut terlibat aktif, WFH justru bisa menjadi kesempatan untuk membangun ritme rumah tangga yang lebih adil. Namun, semua manfaat itu hanya akan benar-benar terasa jika fleksibilitas kerja tidak diterjemahkan sebagai “perempuan jadi lebih tersedia untuk semua urusan.”

Karena kalau itu yang terjadi, maka WFH bukan memberi ruang bernapas. Melainkan hanya memindahkan tekanan kantor ke tengah ruang keluarga.

Tanda WFH Mulai Menambah Mental Load

Sahabat Cantika mungkin tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang mengalami overload. Karena beban itu datang bukan dari satu masalah besar, melainkan dari banyak hal kecil yang menumpuk.

Beberapa tanda bahwa WFH mulai menambah mental load antara lain:

1. Merasa harus selalu siap setiap saat
2. Sulit benar-benar fokus karena pikiran bercabang
3. Merasa bersalah ketika bekerja dan juga saat beristirahat
4. Tidak pernah merasa “selesai” meski jam kerja sudah berakhir
5. Mudah lelah, sensitif, atau cepat kewalahan
6. Merasa jadi orang yang paling mengingat semua hal di rumah.

Jika kondisi ini terus berlangsung, WFH bisa membuat seseorang terlihat 'tetap berfungsi', tetapi secara emosional sebenarnya kelelahan diam-diam.

Pilihan Editor: Work Life Balance, Ini 7 Tips Bebas Stres di Tempat Kerja

ECKA PRAMITA | SONDERMIND | TANDFONLINE | OECD

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |