Waspada Hantavirus, Kenali Gejala dan Langkah Proteksi Diri

4 hours ago 2

BELAKANGAN ini Hantavirus ramai diperbincangkan publik. Hal ini bermula dari laporan adanya penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, yang terjangkit virus tersebut hingga menyebabkan tiga orang di antaranya meninggal dunia. Meski tergolong penyakit langka, infeksi virus Hanta dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal dan berpotensi fatal bila tidak ditangani dengan cepat. 

Virus Hanta (Hantavirus) merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang biasanya menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Ada pula Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang bisa menyerang ginjal dan pembuluh darah.

"Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong Rio Yansen Cikutra dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 15 Mei 2026. Meski jarang terjadi, infeksi virus ini dapat memicu kondisi medis yang fatal bagi penderitanya. 

Penularan dan Gejala Hantavirus 

Ada beberapa cara penularan hantavirus yang paling sering terjadi. Pertama caranya dengan menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan lain bisa terjadi saat kontak langsung dengan tikus atau sarangnya. Lalu ada pula penularan dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung, mata, atau mulut. Penularan terakhir adalah dengan gigitan tikus, walau hal ini cukup jarang terjadi. Pada beberapa jenis tertentu, seperti Andes hantavirus, terdapat kemungkinan penularan antar manusia, meskipun kasusnya sangat jarang.

Secara klinis, gejala Hantavirus terbagi ke dalam dua tahap perkembangan. Pertama adalah gejala awal yang cukup ringan. Penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala hebat, nyeri otot (terutama di bagian punggung dan paha), serta tubuh yang terasa sangat lemas. Gejala ini sering kali disertai gangguan pencernaan seperti nyeri perut, muntah, hingga diare.

Ada pula gejala lanjutan yang biasa cukup berat terjadi. Hal ini terjadi jika kondisi memburuk, pasien akan mengalami gangguan pernapasan serius, mulai dari batuk-batuk hingga sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. "Selain itu, dapat terjadi sindrom jaundice (kuning), penurunan tekanan darah secara drastis (syok) hingga gangguan fungsi ginjal," kata Rio.

Lakukan Pencegahan Maksimal 

Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi partikel kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Untuk meminimalkan risiko, masyaralat perlu memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Pertama, waspada area dengan populasi tikus yang tinggi. "Lingkungan tempat tinggal atau area kerja yang menjadi sarang tikus adalah zona risiko utama," kata Rio. 

Lalu masyarakat juga perlu waspada tentang ruang tertutup yang lama terabaikan. Penting agar masyarakat waspada saat membersihkan gudang, loteng, atau bangunan lama tanpa alat pelindung diri. Karena debu yang mengandung virus dapat terhirup dengan mudah. Masyarakat juga bisa menutup lubang di dalam dan di luar rumah. Hal ini untuk mencegah hewan pengerat masuk ke dalam rumah dan di tempat kerja.

Kemudian, perlu pula masyarakat menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja. "Gunakan metode pel basah di seluruh area untuk memastikan partikel berbahaya tidak terhirup," kata Rio. 

Kewaspadaan tinggi perlu juga dilakukan di sektor pertanian dan perkebunan. Pekerja di area lahan terbuka atau perkebunan memiliki risiko lebih tinggi karena kontak yang intens dengan habitat alami hewan pengerat. Masyarakat yang suka beraktivitas di alam bebas juga perlu memperhatikan perlindungan diri. Berkemah atau beraktivitas di hutan dan area perkemahan tanpa menjaga higienitas makanan dan tempat tidur dapat meningkatkan peluang terpapar.

Penting pula agar masyarakat mewaspadai kondisi sanitasi yang buruk. Lingkungan yang kotor dan tidak memiliki tata kelola sampah yang baik akan memicu kedatangan hewan pembawa virus. "Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," kata Rio. 

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong Margareth Aryani Santoso menekankan pentingnya respons medis yang cepat. “Melalui ketersediaan fasilitas ruang isolasi yang modern dan tim medis yang kompeten, Bethsaida Hospital siap menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai tantangan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit infeksi seperti Hantavirus," kata Margareth. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |