KontraS: Pola Pikir Pelaku Teror Air Keras Sangat Berbahaya

1 hour ago 3

KOMISI untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) buka suara soal pengakuan empat terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Testimoni para pelaku itu disampaikan dalam sidang lanjutan di Peradilan Militer II-08 Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyoroti pengakuan para pelaku terkait motif melakukan teror tersebut. "Mereka melakukan penyerangan karena Andrie Yunus dinilai arogan atau dinilai overacting," ujar Dimas lewat pesan suara kepada Tempo, pada Jumat, 15 Mei 2026.

Menurutnya, keterangan para pelaku tersebut menunjukkan adanya konsep berpikir yang berbahaya di tubuh institusi militer. Serta ola pikir yang sangat impulsif. Musababnya, mereka adalah aparat negara yang diberikan wewenang untuk memegang senjata sehingga tidak bisa berlaku impulsif dan sewenang-wenang.

Bila pola pikir seperti ini dibiarkan begitu saja, kata Dimas, kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap warga negara bisa saja kembali terulang. "Ini kemudian akan menjadi bom waktu," ucap Dimas. 

Salah satu eksekutor serangan anggota Badan Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia atau Bais TNI, Sersan Dua Edi Sudarko, sebelumnya sempat mengungkapkan alasan mereka menyiram korban dengan air keras. “Karena overacting,” kata Edi di hadapan majelis hakim kala itu.

Edi mengaku geram saat melihat video yang merekam aksi Andrie Yunus kala menginterupsi rapat tertutup revisi Undang-Undang TNI di Hotel Fairmont. Dia lalu menunjukkan video tersebut kepada terdakwa lainnya.

Menurut Edi, apa yang dilakukan oleh korban telah menginjak-injak harga diri TNI. Oleh karena itu, Edi lalu menyusun rencana untuk menyerang Andrie Yunus bersama keempat rekannya, yaitu Letnan Satu Budhi Hariyanto Widhi (BHW), Kapten Nandala Dwi Prasetyo (NDP), dan Letnan Satu Sami Lakka (SL). 

Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) selaku kuasa hukum Andrie menilai motif dendam pribadi itu runtuh karena para terdakwa ternyata tidak bertugas di Hotel Fairmont saat aksi interupsi berlangsung. Mereka lalu mendesak agar sosok dalang di balik penyiraman terhadap kliennya diungkap. 

Riani Sanusi Putri ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini. 
Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |