Syarat Ikut dan Rute Mubeng Beteng Malam 1 Suro di Yogya

5 hours ago 3

ABDI Dalem Keraton Yogyakarta bersiap menggelar tradisi tahunan Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng pada Selasa, 16 Juni 2026 tengah malam. Ritual berjalan kaki dalam keheningan atau tapa bisu untuk memperingati malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa ini terbuka bagi masyarakat umum tanpa dipungut biaya. Nuansa budaya pun akan terasa semakin kental karena Keraton Yogyakarta menyajikan pementasan wayang langka sebagai pembuka rangkaian acara.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Yogyakarta KRT Kusumanegara menuturkan ritual ini merupakan wujud kebersamaan antara keraton dan masyarakat dalam menjaga kelestarian adat. "Agenda Mubeng Beteng ini bukan hajad dalem milik Keraton Yogyakarta, tapi inisiatif dari abdi dalem dan masyarakat dalam upaya nyengkuyung (mendukung) keraton sebagai pusat kebudayaan," kata Kusumanegara, Selasa, 16 Juni 2026.

Syarat dan Rute Mubeng Beteng

Dalam ritual ini abdi dalem dan warga akan bersama-sama menjalankan lampah budaya mubeng beteng, menyatukan rasa untuk menjalani refleksi bersama dalam menyambut tahun baru yang lebih baik. Untuk menjaga kekhidmatan ritual, panitia menetapkan sejumlah syarat berpakaian dan larangan. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

KRT Kusumanegara meminta para abdi dalem mengenakan pakaian adat yang lengkap, sementara masyarakat umum menyesuaikan diri dengan norma kesopanan. "Untuk seluruh abdi dalem yang akan bergabung diimbau bisa menggunakan busana peranakan dan kebaya jangkep (lengkap). Sedangkan masyarakat umum, bisa bergabung dengan busana yang bebas rapi sopan dan nyaman, kami harapkan tidak pakai celana pendek," tutur Kusumanegara.

Selain larangan memakai celana pendek, acara itu juga melarang keras peserta membawa atau mengenakan atribut yang berafiliasi dengan organisasi, komunitas, lembaga, maupun partai politik tertentu.  Seluruh peserta yang ikut berjalan kaki juga diminta untuk menjaga ketertiban umum serta tidak mengotori lingkungan sepanjang rute.

Perjalanan Lampah Budaya Mubeng Beteng 2026 ini akan menempuh rute melingkar yang sakral mengitari benteng luar Keraton Yogyakarta. Iring-iringan akan dimulai dari Kagungan Dalem Kamandungan Lor, lalu melewati Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan H Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Suryowijayan, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjend Sutoyo, dan Jalan Brigjen Katamso. 

Dari situ kemudian akan lanjut melalui Jalan Ibu Ruswa, Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara, menyusuri Jalan Rotowijayan kembali, hingga akhirnya menyudahi perjalanan di Kagungan Dalem Kamandungan Lor.

Pagelaran Wayang Kulit

Sebelum ritual berjalan kaki dimulai, Kawedanan Kridhamardawa Keraton Yogyakarta akan menyelenggarakan Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog atau pementasan wayang kulit gedhog. Pentas ini digelar mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul. 

Sang dalang sekaligus pimpinan produksi pementasan, Cermo Gupito, menjelaskan bahwa kehadiran wayang gedhog ini sengaja disiapkan untuk melengkapi jalannya ritual Suro. "Untuk acara tahun ini dari Kawedanan Kridhamardawa turut menghadirkan pementasan wayang kulit gedhog yang digelar sebelum jalannya Mubeng Beteng," kata Gupito.

Menurut Gupito, lakon yang dibawakan adalah Jaya Berdangga yang diangkat dari Cerita Panji. Sebuah kisah klasik yang kini sudah sangat jarang dipentaskan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Kisah ini dipilih karena sarat akan tuntunan hidup, mulai dari nilai kesetiaan Raden Panji, perjuangan menghadapi gangguan senopati seberang di Keraton Kediri, hingga nilai kesuburan Tanah Jawa melalui simbol tokoh Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Ceritanya tidak kalah menarik dengan wayang purwa, sangat kompleks dan erat dengan realitas kehidupan masyarakat Jawa. 

"Melalui rangkaian acara ini, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang dalam rangka mencari bekal untuk introspeksi diri. Karena dalam gelaran cerita wayang dinilai banyak falsafah kehidupan yang termuat.

Bagi masyarakat yang menonton pementasan wayang secara langsung,  bisa mengikuti prosesi inti Mubeng Beteng.  Selepas pukul 23.00 WIB, para peserta dapat berjalan bersama rombongan Abdi Dalem menuju lokasi pemberangkatan.

Adapun Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat bisa mengikuti ritual Mubeng Beteng ini secara spontan. Pihak panitia tidak menyediakan sistem pendaftaran atau memungut biaya masuk. "Kegiatan ini gratis, tidak ada registrasi, bebas tidak dipungut biaya bagi masyarakat umum yang akan mengikutinya," kata Dian.

Berdasarkan jadwal resmi, peserta bisa mulai berdatangan di Kagungan Dalem Kamandungan Lor Keraton Yogya pukul 20.00 hingga 21.00 WIB.  Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Macapat atau kidung doa di Bangsal Pancaniti pada pukul 21.00 hingga 23.00 WIB.  Setelah pementasan wayang selesai, prosesi seremonial pembukaan akan dilaksanakan pada pukul 23.00 hingga 23.30 WIB, diikuti persiapan akhir pemberangkatan hingga pukul 23.50 WIB.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |