Di Balik Sosok Gemas Butter Baby tentang Rumah dan Harapan

3 hours ago 2

SELAMA ini Butter Baby dikenal sebagai karakter mungil dengan wajah menggemaskan. Namun di balik tampilannya yang ceria, ternyata terdapat kisah tentang kehilangan, pencarian rumah, dan harapan yang menjadi fondasi karakter tersebut.

Hal itu terungkap dalam film animasi pendek The Story of Butterlandia. Film tersebut memperkenalkan Butterlandia, dunia asal Butter Baby yang tengah mengalami krisis karena sumber energi utama mereka perlahan menghilang. Dalam cerita itu, Butter Baby melakukan perjalanan jauh untuk mencari cara menyelamatkan rumahnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bagi Nick Burch dan Henry Burch, pendiri Butter Baby, cerita tersebut lahir dari pengalaman yang dekat dengan banyak orang, yaitu perasaan mencari tempat untuk pulang.

"Home adalah kata yang sangat spesial. Ketika kami berada di Jakarta, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti menemukan rumah yang sebelumnya belum pernah kami rasakan," ujar Nick dan Henry, saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026. 

Menurut mereka, karakter Butter Baby sengaja tidak diciptakan sebagai sosok yang sempurna. Sebaliknya, karakter itu dibangun sebagai representasi seseorang yang sedang berusaha memahami dunia baru di sekitarnya.

Karakter yang Bertumbuh

Pandangan serupa disampaikan Karen Tjahja, Head of Marketing & Business Development Butter Baby. Menurutnya, banyak karakter populer yang digambarkan tanpa kekurangan, sementara Butter Baby justru hadir dengan berbagai emosi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa Butter Baby bukan sekadar karakter yang memiliki cerita tetap, melainkan sosok yang akan terus berkembang melalui pengalaman baru yang dijalaninya. "Karakternya bertumbuh seperti manusia. Semakin banyak pengalaman yang ia temui, semakin banyak pula hal yang membentuk dirinya," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, karakter fiksi tidak lagi sekadar berfungsi sebagai maskot atau elemen visual sebuah merek. Kehadiran karakter yang memiliki latar cerita dan perjalanan emosional membuat banyak orang merasa lebih mudah terhubung secara personal.

Fenomena itu pula yang terlihat pada Butter Baby. Di balik tampilannya yang sederhana, karakter tersebut membawa narasi yang lebih dalam tentang kerinduan terhadap rumah, proses bertumbuh, hingga harapan untuk menemukan tempat yang membuat seseorang merasa diterima.

Bagi Karen, pesan terpenting yang ingin disampaikan melalui Butter Baby adalah bahwa setiap orang sedang menjalani perjalanan yang sama: mencoba memahami dunia dan mencari tempat di mana mereka merasa nyaman menjadi diri sendiri. "Pada akhirnya kami ingin orang merasa bahwa mereka tidak sendirian. Selalu ada harapan, dan selalu ada kemungkinan untuk menemukan rumah, dalam bentuk apa pun itu," katanya.

GHAEIZA KAY RASUFFI

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |