PEJABAT senior Pentagon pada Rabu melaporkan bahwa perang Amerika Serikat di Iran sejauh ini telah menelan biaya US$25 miliar atau sekitar Rp 434 triliun, seiring konflik mendekati hari ke-60. Ini merupakan perkiraan resmi pertama tentang biaya militer untuk konflik tersebut, seperti dilaporkan NBC News.
Jules Hurst, yang menjalankan tugas sebagai pengawas keuangan Pentagon, memberikan kesaksian di sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Hurst mengatakan kepada anggota parlemen di Komite Angkatan Bersenjata DPR bahwa sebagian besar uang itu untuk amunisi.
"Kurang lebih, pada hari ini, kita menghabiskan sekitar $25 miliar untuk Operasi Epic Fury," kata Hurst kepada anggota Demokrat terkemuka di komite tersebut, Adam Smith.
Hurst tidak merinci apa saja yang termasuk dalam perkiraan biaya tersebut. Ia juga tidak menyebut apakah itu memperhitungkan perkiraan biaya pembangunan kembali dan perbaikan infrastruktur pangkalan di Timur Tengah yang rusak akibat konflik.
Selama sesi tanya jawabnya, Smith menunjukkaan bahwa Pentagon belum memberikan informasi terbaru kepada Kongres mengenai biaya perang sejak dimulai. "Saya senang Anda menjawab pertanyaan itu. Karena kami sudah menanyakannya sejak lama, dan tidak ada yang memberi kami angkanya."
Smith kemudian bertanya apakah Departemen Pertahanan berencana meminta pendanaan tambahan dari Kongres untuk membiayai konflik yang sedang berlangsung.
"Kami akan merumuskan dana tambahan, melalui Gedung Putih, yang akan diajukan ke Kongres setelah kami memiliki penilaian lengkap tentang biaya konflik," kata Hurst kepada Smith.
Kemudian pada Rabu petang, Hurst juga berjanji untuk memberikan rincian biaya kepada para anggota parlemen tentang apa yang telah dihabiskan dari dana US$25 miliar tersebut setelah pertanyaan dari anggota DPR Maggie Goodlander.
"Itu hanya mencerminkan biaya perang," kata Hurst. "Jadi kami telah menghabiskan dana untuk amunisi dan hal-hal seperti itu, jadi kami memperhitungkan biaya amunisi yang telah dikeluarkan dalam total tersebut."
Total tersebut, kata Hurst, "mencerminkan amunisi yang telah dihabiskan hingga saat ini dan biaya operasional lainnya."
Penjelasan tersebut memicu kritik dari Goodlander, yang mengatakan kepada Hegseth, "Kita sudah 60 hari memasuki perang pilihan Anda di Iran, dan Anda tidak dapat memberi kami jawaban tentang rincian dasar uang pajak Amerika yang telah dihabiskan?"
Perang AS di Iran membuat Partai Republik sebagai pendukung Presiden Donald Trump menghadapi perjuangan berat untuk mempertahankan mayoritas mereka di DPR. Ini menjelang enam bulan sebelum pemilihan paruh waktu pada November 2026.
Partai Demokrat sedang berada di puncak jajak pendapat publik saat mereka mencoba menghubungkan perang Iran yang tidak populer dengan kemampuan untuk membiayainya.

















































