Pengusaha Nikel Harap Lebih Banyak Regulasi Pro Penghiliran

4 hours ago 2

KETUA Umum Forum Industri Nikel Indonesia Arif Perdana Kusumah mendorong pemerintah menciptakan regulasi yang mampu menarik minat investor melakukan proyek penghiliran di Tanah Air. “Industri juga membutuhkan suatu kebijakan yang bisa mendorong industri ini lebih ke hilir lagi. Karena nilai tambahnya itu akan jauh lebih besar,” kata Arif, dalam sesi diskusi yang digelar Tempo Inti Media Impresario bertajuk Ekspor Satu Pintu dan Masa Depan Industri Sawit dan Tambang Nasional pada Rabu, 24 Juni 2026.

Arif mengatakan, penghiliran di industri nikel sudah dimulai sejak 2009 ketika pemerintah merevisi Undang-Undang Pertambangan. Saat itu, Arif menjelaskan, pemerintah mewajibkan pengusaha mengolah dan memurnikan mineral di dalam negeri, sehingga tidak bisa langsung diekspor. Kemudian, sekitar lima tahun setelahnya yakni di era Presiden Joko Widodo, pemerintah melarang ekspor bahan mentah. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sejak saat itu, kata Arif, fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia berkembang pesat. Hingga pada akhirnya, pada 2025, Arif mengatakan Indonesia menjadi produsen nikel terbesar di dunia.

Ia mengatakan, 60 persen pangsa pasar nikel global pada saat ini adalah Indonesia. Pangsa pasar utama nikel Indonesia adalah Cina sebagai negara konsumen terbesar di dunia.

Lebih jauh Arif memperkirakan Indonesia telah memproduksi sekitar 2,5 juta ton nikel, baik untuk industri stainless steel atau produk transisi energi termasuk baterai kendaraan listrik. Namun, hampir 90 persen dari total produksi diekspor dalam bentuk mentah.

“Walaupun kita sudah berhasil menjadi produsen terbesar di dunia, tetapi yang kita hasilkan baru berupa produk-produk intermediate,” tuturnya. 

Ia pun menyadari, seharusnya Indonesia lebih banyak memproduksi produk turunan dengan nilai tambah. Oleh karena itu, Arif mendorong  pemerintah menciptakan regulasi yang bisa menarik investasi terutama sektor swasta di bidang penghiliran. Tujuannya agar di masa depan, ekspor bahan mentah dari Indonesia tidak signifikan. “Nilai tambah yang besarnya itu justru di downstream, dengan dibangunnya industri downstream sampai barang-barang jadi, barang-barang aplikatif ,” kata dia. 

Selain memberikan nilai tambah, Arif meyakini proyek penghiliran akan menciptakan transfer teknologi. Sebab menurutnya, industri penghiliran seperti pembuatan baterai, stainless steel, precursor, cathode menggunakan teknologi  yang sangat canggih dan membutuhkan talenta yang kompeten. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |