KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) akan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) Selasa, 28 April 2026. Lelang tersebut menawarkan sembilan seri dengan tingkat kupon sampai 7,125 persen dan dilelang dengan nominal per unit Rp 1 juta.
Penawaran obligasi yang diterbitkan pemerintah tersebut ditargetkan meraup Rp 36 triliun. Pada lelang sebelumnya atau 31 Maret 2026, penawaran yang masuk mencapai Rp 78,4 triliun, pemerintah memutuskan menyerap Rp 42 triliun.
Mengutip laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, lelang SUN dalam mata uang rupiah ini untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Sembilan seri SUN yang akan dilelang adalah seri SPN01260530 (New Issuance); SPN12260730 (Reopening); SPN12270429 (New Issuance); FR0109 (Reopening); FR0108 (Reopening); FR0106 (Reopening); FR0107 (Reopening); FR0102 (Reopening); dan FR0105 (Reopening).
Penjualan surat utang akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka, menggunakan metode harga beragam (multiple price). Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif (competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield yang diajukan.
Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif (non-competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang. Pemerintah memiliki hak untuk menjual 9 seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang ditentukan. Maksimal dimenangkan bisa mencapai 150 persen dari target indikatif Rp 36 triliun.
Penawaran obligasi pemerintah merupakan bagian dari pembiayaan anggaran dan juga menalangi defisit APBN tahun ini yang ditargetkan mencapai Rp 689,1 triliun. Berdasarkan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2026 atau UU APBN nomor 17 tahun 2025, pembiayaan utang tahun ini ditargetkan Rp 832,2 triliun. Angkanya naik dibanding target tahun lalu yang sebesar Rp 775,9 triliun.


















































