GUNUNG Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran. Kali ini terjadi pasca-hujan intensitas tinggi mengguyur kawasan puncak gunung api itu pada Rabu sore, 20 Mei 2026.
Berdasarkan rekaman visual, peristiwa luncuran awan panas guguran tersebut terjadi pukul 16.19 WIB dengan estimasi jarak luncur sejauh 1.500 meter. Dalam rekaman seismograf, guguran ini tercatat memiliki amplitudo maksimum sebesar 7,01 mm dengan durasi kegempaan selama 143,56 detik, dengan pergerak anmengarah ke sektor barat menuju hulu Kali Sat atau Kali Putih.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Agus Budi Santoso, menuturkan kalau hujan lebat mengguyur kawasan puncak Merapi sejak siang. "Hujan sudah mulai terjadi di puncak gunung itu mulai pukul 14.22 WIB dengan curah hujan awal sebesar 2 mm, berdurasi 15 menit, serta memiliki intensitas 13 mm/jam," kata Agus.
Sempat mereda pada pukul 15.14 ketika akumulasi curah hujan telah terukur 9 mm dan intensitas sebesar 14 mm/jam. Tapi, kondisi cuaca kembali berubah secara dinamis ketika stasiun pemantauan mencatat adanya gelombang hujan berikutnya.
Pada pukul 15.21, hujan kembali mengguyur puncak Merapi dengan curah hujan 6 mm berdurasi 10 menit dan intensitas 38 mm/jam. Curah hujan tersebut mengalami peningkatan yang sangat drastis berdasarkan pembaruan data dari Stasiun Pasarbubar di wilayah Puncak Merapi pada pukul 15.53 dengan catatan intensitas mencapai 40,2 mm/jam.
Pada saat yang hampir bersamaan, Stasiun Labuhan yang terletak di lereng Merapi sebelah selatan mendeteksi adanya guyuran hujan lebat sejak pukul 14.26. Berdasarkan data pukul 15.54, hujan di lereng selatan ini terjadi dalam durasi yang cukup lama yakni selama 89 menit, dengan akumulasi curah hujan yang tinggi mencapai 43,0 mm serta intensitas mencapai 291 mm/jam.
Rangkaian hujan lebat di area puncak akhirnya dinyatakan reda pada pukul 16.14 WIB dengan catatan total durasi selama 52 menit, curah hujan mencapai 22 mm, dan tingkat intensitas akhir sebesar 35 mm/jam.
Menurut Agus, pasca-tingginya intensitas hujan tersebut, kubah lava Gunung Merapi akhirnya mengalami ketidakstabilan hingga memicu terjadinya awan panas guguran. "Kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta Awan Panas Guguran di daerah potensi bahaya," ujar Agus sambil menambahkan tingkat aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berada pada status Siaga atau Level III.
Cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang terjadi luas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan laporan situasi yang dirilis oleh Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC BPBD) DIY, cuaca ekstrem ini berdampak di wilayah Kabupaten Bantul, khususnya di kawasan Banguntapan. Dampak juga didata di Kabupaten Sleman yang meliputi wilayah Gamping, Seyegan, Mlati, Depok, Berbah, Sleman, Tempel, dan area sekitarnya.
Seiring berjalannya waktu, sebaran cuaca ekstrem tersebut dilaporkan meluas ke Kabupaten Kulon Progo yang mencakup Girimulyo, Nanggulan, Samigaluh, dan Kalibawang. Dampak angin kencang di wilayah perkotaan adalah sejumlah insiden pohon tumbang serta kerusakan bangunan, khususnya di wilayah Kota Yogyakarta.
Di Kecamatan Gondokusuman, sebuah pohon dilaporkan tumbang di Jalan Sunaryo hingga menimpa kabel telepon serta jaringan listrik yang berakibat pada tertutupnya akses jalan umum. Insiden pohon tumbang lainnya terjadi di kawasan Kampus V Universitas Sanata Dharma yang terletak di Jalan Ahmad Jazuli, di mana material pohon menimpa area parkir sepeda motor.















































