PEMIMPIN Hizbullah Naim Qassem pada Sabtu menegaskan gencatan senjata dengan Israel harus berarti penghentian total agresi, seraya memperingatkan bahwa kelompok tersebut akan membalas pelanggaran Israel di Lebanon selatan.
"Tidak ada gencatan senjata dari satu pihak saja," kata Qassem dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Xinhua dan dikutip Antara.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia mengatakan para pejuang Hizbullah akan menanggapi pelanggaran agresi dengan cara yang sesuai.
Qassem menjelaskkan lima langkah utama, yakni penghentian pertempuran secara permanen di seluruh Lebanon, penarikan penuh pasukan Israel, pembebasan tahanan, kembalinya warga yang mengungsi serta rekonstruksi dengan dukungan Arab dan internasional.
Hizbullah, kata dia, belum dikalahkan dan akan terus memperjuangkan pembebasan dan kemerdekaan Lebanon.
Qassem juga mengatakan Hizbullah terbuka untuk memulai babak baru untuk bekerja sama dengan Pemerintah Lebanon. Ia juga menekankan kesiapan untuk bekerja dengan lembaga-lembaga negara guna memperkuat persatuan nasional dan menjaga kedaulatan.
Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada tengah malam antara Kamis dan Jumat waktu setempat, menyusul pengumuman sebelumnya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu bahwa pihaknya telah menyerang Hizbullah yang mendekati "garis kuning" (yellow line). Garis kuning mirip yang dilakukan Israel di Gaza menandai tepi utara dari "zona keamanan" yang ditetapkan Israel di Lebanon selatan, dalam satu hari terakhir.
Militer Israel juga mulai membangun lokasi militer baru pada Sabtu di dekat Desa Kfarchouba di sektor timur area perbatasan Lebanon selatan, menurut sejumlah saksi mata dan seorang sumber keamanan Lebanon.
Sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada Xinhua bahwa sebuah unit militer Israel, yang terdiri atas buldoser dan ekskavator serta dilindungi sebuah tank Merkava, sedang melakukan pekerjaan pemindahan tanah di sebuah bukit di barat daya Kfarchouba.
Aktivitas tersebut mencakup perataan tanah, penggalian, dan pembangunan tanggul tanah, yang mengindikasikan pendirian pos militer baru yang secara administratif terkait dengan Kfarchouba.
Saksi mata mengidentifikasi lokasi tersebut sebagai bukit "Rbaa al-Teben", sekitar 1,5 km dari garis demarkasi Lebanon-Israel dan merupakan area kebun zaitun serta kebun anggur.


















































