Diet Sering Gagal? Bisa Jadi Bukan karena Kurang Disiplin, Kenali Istilah Food Noise

3 hours ago 3

CANTIKA.COMJakarta - Pernah merasa sudah berusaha menjaga pola makan, tetapi rasa lapar dan keinginan untuk makan kembali muncul begitu saja? Kondisi tersebut mungkin membuat seseorang merasa gagal menjalani diet. Padahal, perjalanan mengelola berat badan tidak selalu sesederhana persoalan kemauan atau kedisiplinan.

Salah satu istilah yang belakangan banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika pikiran terus dipenuhi keinginan atau dorongan terhadap makanan adalah food noise.

Secara sederhana, food noise dapat dipahami sebagai pikiran yang terus kembali pada makanan misalnya terus memikirkan apa yang ingin dimakan, kapan bisa makan berikutnya, atau merasa terdorong untuk ngemil meski tubuh belum tentu membutuhkan asupan tambahan.

Menurut psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, kondisi tersebut tidak bisa semata-mata dilihat sebagai persoalan kurangnya kemauan untuk menjalani diet. Hubungan seseorang dengan makanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biologis, psikologis, kebiasaan, hingga lingkungan.

“Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat memengaruhi pola makan yang juga tidak tepat,” jelas Tara melalui siaran pers, Selasa, 25 Agustus 2026. 

Ketika Tubuh Ikut Memengaruhi Rasa Lapar

Pengaturan nafsu makan ternyata melibatkan sistem yang cukup kompleks. Setelah seseorang makan, tubuh menghasilkan berbagai sinyal hormonal yang membantu mengatur kadar gula darah, rasa lapar, dan rasa kenyang.

Salah satunya adalah kelompok hormon incretin, termasuk GLP-1 (glucagon-like peptide-1) dan GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide). Kedua hormon tersebut terlibat dalam regulasi metabolisme dan nafsu makan.

Tirzepatide, misalnya, bekerja dengan mengaktivasi reseptor GLP-1 dan GIP. Mekanisme tersebut dapat membantu mengurangi nafsu makan dan asupan makanan pada pasien yang memenuhi kriteria penggunaannya.

“Banyak orang merasa gagal menjalani diet bukan semata-mata karena kurang disiplin. Saat berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon dan mekanisme pengaturan nafsu makan di otak,” ujar dr. Guadelupe Maria Melissa, Medical Manager LIGHT Group.

Ia menjelaskan bahwa terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yakni GLP-1 dan GIP. Pada pasien yang sesuai, terapi tersebut dapat membantu mengendalikan nafsu makan dan asupan makanan.

Namun, penggunaan terapi ini tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari penanganan medis yang menyeluruh, bukan sebagai pengganti pola makan sehat dan aktivitas fisik. Dalam indikasi pengelolaan berat badan, tirzepatide digunakan bersama pengaturan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik.

Ilustrasi diet makanan mentah. Freepik.com/Yanalya

Food Noise Tak Selalu Berarti Lapar

Hal menarik dari food noise adalah perbedaan antara lapar secara fisik dan dorongan untuk makan. Seseorang bisa saja tidak benar-benar lapar, tetapi pikirannya terus tertuju pada makanan. Misalnya, keinginan untuk mencari camilan setelah melihat konten makanan di media sosial, keinginan makan karena stres, atau dorongan untuk terus ngemil meski baru saja makan.

Karena itu, pendekatan terhadap pola makan tidak cukup hanya dengan menghitung kalori atau melihat angka pada timbangan. Tara menilai, aspek psikologis juga perlu diperhatikan untuk memahami pola makan seseorang. “Pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mengatasi pikiran, dorongan makan serta akar masalah makan yang tidak tepat,” ujarnya.

Artinya, ketika seseorang berkali-kali gagal mempertahankan pola diet, pertanyaannya bukan hanya “Kenapa saya tidak bisa disiplin?”, tetapi juga “Apa yang membuat saya terus terdorong untuk makan?”

Mengelola Berat Badan Bukan Sekadar Menurunkan Angka Timbangan

Perspektif tersebut membuat pengelolaan berat badan mulai bergeser. Targetnya bukan semata-mata mendapatkan angka tertentu di timbangan, tetapi membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

LIGHThouse Clinic, yang dalam siaran pers ini menyebut telah berpengalaman lebih dari dua dekade dalam pengelolaan berat badan, mengedepankan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, ahli gizi, dan psikolog.

Ahli gizi dapat membantu menyusun pola makan yang lebih realistis dan sesuai kebutuhan individu. Sementara itu, pendampingan psikologis dapat membantu seseorang mengenali hubungan emosional dengan makanan, kebiasaan makan, maupun pemicu tertentu yang membuat pola makan sulit dikendalikan.

Pendekatan seperti ini menjadi penting karena perubahan berat badan tidak berlangsung dalam ruang hampa. Lingkungan, rutinitas, kondisi emosional, kualitas tidur, aktivitas fisik, serta kondisi metabolik dapat ikut memengaruhi perjalanan seseorang.

LIGHThouse juga memperkenalkan dua pilihan terapi berbasis tirzepatide, yakni TirzePen dan TirzeSlim, sebagai bagian dari layanan pengelolaan berat badan.

Namun, penting dipahami bahwa terapi berbasis tirzepatide bukan solusi yang digunakan secara bebas untuk menurunkan berat badan. Tirzepatide merupakan obat yang memiliki indikasi, kontraindikasi, serta efek samping yang perlu diperhatikan dan harus digunakan berdasarkan penilaian tenaga medis. Label FDA, misalnya, mencantumkan risiko seperti gangguan gastrointestinal, penyakit kandung empedu, pankreatitis, serta kontraindikasi tertentu termasuk riwayat pribadi atau keluarga kanker tiroid meduler dan MEN 2.

Karena itu, seseorang yang merasa mengalami kesulitan mengendalikan berat badan atau nafsu makan sebaiknya tidak langsung menggunakan obat penurun berat badan tanpa konsultasi medis.

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |