PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menyebutkan bahwa kolom abu dapat digunakan untuk memperkirakan kekuatan erupsi atau letusan suatu gunung api. Semakin tinggi kolom abu erupsi yang terbentuk, umumnya menunjukkan energi letusan yang semakin besar.
“Informasi mengenai tinggi kolom abu letusan gunung api memiliki peran penting dalam mitigasi bencana dan keselamatan publik,” kata Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, kepada Tempo, Senin, 18 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurutnya, data tinggi kolom abu juga sangat penting bagi keselamatan penerbangan, terutama untuk memberikan peringatan kepada pesawat agar menghindari jalur yang terdampak abu vulkanik.
Fungsi lainnya untuk memprediksi potensi sebaran abu vulkanik dengan mempertimbangkan arah dan kecepatan angin. “Sehingga wilayah yang berpotensi terdampak dapat diidentifikasi lebih cepat dan langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat,” ujarnya.
Petugas pos pengamatan gunung api melakukan pengukuran tinggi kolom erupsi segera saat erupsi terjadi agar informasi awal dapat secepat mungkin disampaikan kepada masyarakat dan pihak terkait. Heruningtyas mengatakan pengamatan oleh petugas dilakukan secara terus-menerus selama erupsi berlangsung karena tinggi kolom abu dapat berubah dan terus berkembang dalam beberapa menit setelah letusan awal.
Informasi tinggi kolom erupsi akan diperbarui kembali hingga mencapai titik maksimum kolom erupsi yang dapat diamati, sehingga data yang disampaikan menjadi lebih akurat dan representatif terhadap kondisi letusan yang sebenarnya.
Metode pengukuran tinggi kolom abu erupsi yang dilakukan petugas pos pengamatan gunung api, yaitu dengan menghitung jarak vertikal dari puncak gunung hingga titik tertinggi kolom erupsi yang teramati. Pada tahap awal, menurut Heruningtyas, pengamatan biasanya dilakukan secara visual dengan membandingkan tinggi kolom abu terhadap tinggi gunung dan menggunakan skala pengamatan.
"Namun demikian, hasil pengamatan visual sering kali cenderung lebih rendah dibandingkan kondisi sebenarnya karena adanya keterbatasan jarak pandang, cuaca, sudut pengamatan, dan kemampuan mata manusia dalam memperkirakan ketinggian kolom erupsi," ujarnya.
Untuk meningkatkan ketepatan hasil pengukuran, PVMBG juga memanfaatkan berbagai aplikasi dan peralatan pendukung, seperti radar, total station, kompas geologi, dan range finder.
Selain pengamatan langsung di lapangan, analisis citra satelit Himawari yang dilakukan melalui kerja sama dengan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia, ikut digunakan untuk membantu pengukuran tinggi kolom abu.
Mekanisme pengukuran tinggi kolom abu erupsi, kata Heruningtyas, pada dasarnya menggunakan konsep trigonometri, yaitu menghitung ketinggian berdasarkan sudut pengamatan, jarak pengamat terhadap gunung, dan posisi titik tertinggi kolom erupsi.
Selain itu, petugas juga menggunakan konsep perbandingan tinggi gunung dengan membandingkan tinggi kolom abu terhadap elevasi gunung yang sudah diketahui sebelumnya, sehingga estimasi tinggi kolom dapat diperoleh dengan lebih cepat.
Dalam pengamatan visual, digunakan pula konsep skala, baik melalui panduan pengamatan maupun alat bantu yang telah disebutkan tadi, untuk memperkirakan proporsi tinggi kolom abu.
Tahapan penggunaan alat pengukur tinggi kolom erupsi umumnya dilakukan dengan menempatkan peralatan pengamatan pada lokasi tetap yang sama di pos pengamatan agar sudut dan arah pengukuran tetap konsisten.
Setelah alat dipasang dan diarahkan ke gunung api yang diamati, peralatan dapat langsung digunakan atau bersifat plug and play, sehingga petugas dapat segera melakukan pengukuran saat erupsi terjadi. Selanjutnya, petugas mengarahkan alat ke titik tertinggi kolom erupsi untuk memperoleh data sudut, jarak, atau posisi kolom abu yang kemudian diolah menjadi estimasi tinggi kolom erupsi.
“Penggunaan lokasi dan konfigurasi alat yang tetap membantu menghasilkan data pengamatan yang lebih stabil, akurat, dan mudah dibandingkan antar kejadian erupsi,” kata Heruningtyas.
Dari hasil pengukuran tinggi kolom abu erupsi, petugas juga dapat melakukan analisis lanjutan untuk mendukung pemantauan aktivitas gunung api dan mitigasi bencana. Salah satunya adalah pengukuran arah dan kecepatan angin yang sangat berpengaruh terhadap arah daerah sebaran abu vulkanik di atmosfer.
Selain itu, petugas dapat merekam durasi erupsi untuk mengetahui lama aktivitas letusan dari awal sampai akhir. Data pengamatan visual tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil pemantauan kegempaan, terutama terkait waktu mulai dan durasi erupsi, sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai karakteristik dan dinamika aktivitas vulkanik yang sedang terjadi.












































