Anies Ungkap Penyebab Kepercayaan Rakyat Luntur ke Pemimpin

4 hours ago 2

MANTAN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan syarat menjadi pemimpin mesti mendapatkan kepercayaan dari pengikutnya. Namun, kepercayaan itu bisa luntur bila mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Jadi yang dipikirin dirinya sendiri, anaknya, ponakannya, benar enggak? Keluarganya. Langsung pada enggak percaya kan," kata mantan Rektor Universitas Paramadina ini saat menjadi pembicara seminar berjudul 'Integritas Karakter Kompetensi dan Teknologi dalam Pendidikan di Indonesia' di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Rabu, 6 Mei 2026. 

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini berkata kepemimpinan bukan bakat alami yang dibawa sejak lahir. Kepemimpinan adalah potensi setiap manusia yang bisa ditumbuhkan. 

Bagi Anies, seorang dikatakan pemimpin bila memiliki pengikut. Pengikut memilih pemimpin atas dasar kepercayaan. Kepercayaan dapat timbul ketika pemimpin memiliki kompetensi. Kepercayaan juga timbul ketika pemimpin memiliki integritas. 

"Integritas artinya bertindak jujur sesuai dengan norma dan aturan yang ada," kata dia. Anies menambahkan pemimpin juga harus memiliki intimasi atau kedekatan dengan pengikut. "Jadi rumusnya kepercayaan sama dengan kompetensi, integritas, dan intimasi." 

Namun, kepercayaan itu bisa luntur ketika pemimpin lebih mengutamakan kepentingan pribadi. Semakin besar kepentingan pribadi yang ditonjolkan, maka semakin rendah tingkat kepercayaan. 

Selain itu, Anies mengatakan kepemimpinan juga harus memiliki kemampuan untuk mempelajari hal baru dan keberanian untuk meninggalkan pemahaman lama yang sudah tidak lagi relevan.

"Pemimpin harus menyadari pengetahuan dahulu bisa saja tidak lagi berlaku seiring perkembangan zaman," kata dia. 

Anies mencontohkan perubahan paradigma dalam dunia pendidikan. Dahulu, paradigma pendidikan berpusat pada guru. Kini pendidikan berpusat pada siswa. Karena itu, Anies meminta guru untuk menjadi sumber ilmu dan seorang fasilitator. 

Dia pun menyarankan siswa dan mahasiswa memiliki tiga karakter untuk terus berkembang. Ketiganya, yaitu berpikir kritis, berpikir kreatif dan sikap adaptif. Menurut dia, berpikir kritis adalah dasar dari tiga karakter itu. Tanpa ada pemikiran kritis, tidak ada kreativitas dan inovasi. 

"Inovasi juga bukan sekadar menciptakan sesuatu melainkan menghadirkan solusi baru atas persoalan lama yang terus berulang. Hanya mereka yang memiliki ketajaman berpikir kritis yang mampu melahirkan solusi-solusi inovatif tersebut," kata dia. 

Adapun Anies hadir dalam kegiatan yang diadakan Universitas Paramadina. Kegiatan ini mengundang sejumlah guru dan siswa dari berbagai sekolah di Jakarta dan Bekasi. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |