Update El Nino, Samudra Pasifik Sudah Menghangat +1 Derajat

1 hour ago 1

ANOMALI suhu muka laut di ekuator Samudra Pasifik bagian timur, biasa disebut area Nino3.4, telah sebesar +1,00 derajat Celsius pada dasarian (10 hari) pertama Juni lalu. Pemanasan suhu muka laut itu terus meningkat setelah pada dasarian kedua Mei lalu dicatatkan angka +0,52 derajat yang menandai mulai terbentuknya fenomena El Nino.

Peningkatan suhu tersebut dihitung menurut indeks El Nino Southern Oscillation atau ENSO Bulanan. Seperti diketahui kondisi El Nino biasa ditandai ENSO Bulanan +0,5 derajat. Peningkatan yang sampai lebih dari dua derajat, seperti yang diproyeksi bakal terjadi tahun ini, menandakan El Nino yang sangat kuat. Dampaknya, kekeringan di wilayah Indonesia.

Berdasarkan keterangan dari Direktorat Perubahan Iklim, Deputi Bidang Klimatologi, BMKG, sifat hujan di Indonesia sepanjang dasarian pertama Juni umumnya di bawah normal (68,75 persen). Curah hujan dengan kriteria intensitas rendah juga mendominasi, yakni 56,25 persen.

Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau meliputi antara lain Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Lampung, sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta sebagian besar NTB dan NTT.

Peringatan dini kekeringan diberikan BMKG untuk sejumlah wilayah pada dasarian kedua Juni yang sedang berjalan ini. Mereka yang diminta waspada adalah beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Fenomena Kediding

Sementara itu, Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengungkap bahwa sebagian wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan, saat ini mengalami musim kemarau yang ditandai dengan pengurangan curah hujan secara signifikan. Periode ini ditandai dengan kembalinya fenomena bediding. 

Bediding merujuk pada fenomena suhu udara yang terasa lebih dingin, khususnya pada malam hingga menjelang pagi di daerah dataran tinggi. Bediding dilaporkan ketika BMKG mencatat suhu minimum mencapai 9,4 derajat Celsius di wilayah Manggarai, NTT, pada 7 Juni lalu. Sementara di Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah, mencapai 16,9 derajat pada 8 Juni. 

Kondisi itu dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin, sehingga menyebabkan minimnya tutupan awan dan langit cenderung cerah. "Minimnya tutupan awan tersebut membuat suhu udara malam terasa lebih dingin, karena panas permukaan bumi yang diserap pada siang lebih mudah terlepas ke atmosfer."

Meskipun demikian, minimnya pembentukan awan juga menyebabkan radiasi matahari yang mencapai permukaan menjadi lebih optimal saat siang. Dampaknya adalah meningkatkan suhu udara maksimum di beberapa wilayah. 

"Pada beberapa hari terakhir, suhu maksimum harian lebih dari 35,0 derajat Celsius tercatat di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur," bunyi keterangan dari BMKG pada 11 Juni 2026.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |