Respons Kebijakan Tarif Trump, Bank Indonesia Berkomitmen Jaga Kestabilan Rupiah

16 hours ago 1

TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) berkomitmen menjaga kestabilan nilai tukar rupiah merespons pengumuman kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) terbaru di bawah kepemimpinan Donald Trump. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, pasca-pengumuman tarif Trump yang kemudian disusul pengumuman retaliasi tarif Cina pada 4 April 2025, pasar bergerak dinamis.

Menurut Ramdan, pergerakan dinamis itu ditunjukkan pasar saham global yang mengalami pelemahan dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (yield US Treasury) mengalami penurunan hingga jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024. “BI tetap berkomitmen menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, terutama melalui optimalisasi instrumen triple intervention,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis, Sabtu, 5 April 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Triple intervention merupakan intervensi di pasar valas pada transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder. Intervensi ini untuk memastikan kecukupan likuiditas valas memenuhi kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar.

Di tengah pengumuman tarif AS, kegiatan operasi moneter Bank Indonesia pada pekan ini ditiadakan mengingat masih dalam periode hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2025 dalam rangka Idul Fitri dan Hari Suci Nyepi. Kegiatan operasional Bank Indonesia akan kembali ke jadwal normal seluruhnya pada 8 April 2025.

Dalam kesempatan terpisah, guru besar di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University Didin S. Damanhuri menilai kebijakan tarif Trump bakal menyebabkan rupiah makin terperosok. Nilai kurs Indonesia diprediksi bisa jeblok hingga Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Kebijakan tarif impor balasan atau resiprokal yang diumumkan Trump, menurut Didin, menimbulkan tekanan bagi perekonomian dunia atau global shock. Akibatnya, mata uang di sejumlah negara termasuk rupiah bakal tertekan.

Selain itu, kata dia, rupiah memang tengah melemah imbas sentimen domestik beberapa waktu belakangan. “Rupiah sudah bisa menyentuh Rp 16.700 per dolar AS dengan sentimen negatif yang terjadi selama ini, seperti adanya Danantara dan langkah-langkah yang populis pemerintah. Sekarang sentimen negatifnya itu lebih mendalam lagi,” ucapnya kepada Tempo, Kamis, 3 April 2025.

Salah satu pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) itu mengatakan, beberapa waktu belakangan investor asing sempat menarik dana beramai-ramai sehingga terjadi capital outflow yang melemahkan kurs dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan sentimen negatif yang dalam ditambah data fundamental ekonomi Indonesia, dampak depresiasi rupiah bisa lebih dalam lagi.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |