POLISI di ibu kota Peru, Lima, menggerebek rumah mantan kepala kepala pemilihan nasional (KPU), di tengah meningkatnya frustrasi pasca-pemilihan presiden negara tersebut.
Hingga Jumat, hasil pemilihan presiden yang berlangsung pada 12 April masih belum final.
Keterlambatan pengiriman surat suara memaksa pemungutan suara di beberapa daerah diperpanjang satu hari. Penghitungan suara yang lambat juga menyebabkan tuduhan kecurangan. Namun, misi pemilihan Uni Eropa ke Peru tidak menemukan indikasi kecurangan.
Seperti dilaporkan Al Jazeera, petugas penegak hukum terlihat memasuki rumah Piero Corvetto, mantan kepala Kantor Nasional Proses Pemilu Peru (ONPE), pada Jumat sebagai bagian dari surat perintah pengadilan.
Para petugas dari unit polisi antikorupsi setempat ditugaskan untuk menyita telepon seluler, laptop, dan dokumen, menurut stasiun televisi lokal RPP.
Rumah lima pejabat lainnya juga menjadi sasaran penggerebekan polisi. Begitu pula kantor milik Galaga, sebuah perusahaan swasta yang mengangkut surat suara pemilu.
Corvetto mengundurkan diri pada Selasa, meskipun membantah melakukan kesalahan atau penyimpangan dalam proses pemilihan. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan berharap kepergiannya akan meningkatkan kepercayaan publik.
Pada Jumat, pengacara Corvetto, Ricardo Sanchez Carranza, mengatakan bahwa seorang hakim mengizinkan penggerebekan tetapi menolak permintaan jaksa untuk menahan Corvetto.
Namun salah satu kandidat presiden terkemuka, mantan wali kota sayap kanan Lima, Rafael Lopez Aliaga, menuduh Corvetto sebagai "kriminal" dan berjanji untuk mengejarnya "sampai ia mati".
Lopez Aliaga saat ini berada dalam persaingan ketat untuk posisi kedua dalam pemilihan presiden.
Dengan 95 persen suara yang telah dihitung, kandidat sayap kanan dan mantan Ibu Negara Keiko Fujimori berada di posisi pertama dengan 17 persen suara. Ia hampir dipastikan akan melaju ke putaran kedua pada 7 Juni.
Sementara itu, Lopez Aliaga berada di posisi ketiga dengan 11,9 persen, di belakang anggota Kongres sayap kiri Roberto Sanchez dengan 12,03 persen.
Sekitar 20.000 suara memisahkan Sanchez dari Lopez Aliaga. Aliaga semakin mengecam pemilihan tersebut sebagai tidak sah, meskipun ia belum memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Namun demikian, ia menyebut penghitungan suara tersebut sebagai "kecurangan pemilu yang unik di dunia".
Hasil akhir diperkirakan akan diumumkan pada 15 Mei.
Pilihan Editor: Ketua KPU Peru Mundur Setelah Kekacauan Pemilu

















































