Night Shift for Cuties Angkat Tantangan yang Dihadapi Perempuan Lewat Dunia Fangirl dan K-Pop

7 hours ago 7

CANTIKA.COM, Jakarta - Di tengah maraknya cerita coming-of-age, serial terbaru Netflix, Night Shift for Cuties, hadir menawarkan perspektif yang lebih dekat dengan realitas perempuan masa kini. Tidak hanya mengisahkan tentang persahabatan dan fandom K-pop, serial ini juga menyoroti berbagai tekanan yang dihadapi perempuan, mulai dari tuntutan sosial, insecurity, hingga standar kecantikan yang masih mengakar kuat.

Menjadi produksi serial perdana Soda Machine Films sekaligus proyek serial pertama bagi Monica Vanesa Tedja atau Mica sebagai sutradara, Night Shift for Cuties mengajak penonton menyelami kehidupan dua perempuan muda yang berusaha bertahan di tengah berbagai kompleksitas hidup.

Serial ini mengikuti kisah Muti (21) yang diperankan Shenina Cinnamon dan Jenar (22) yang dimainkan oleh Nadya Syarifa, dipertemukan melalui pekerjaan mereka di K-Nyeong Mart. Keduanya kemudian semakin dekat karena memiliki satu kesamaan, yaitu kecintaan mereka terhadap grup idola favorit, Purple Tea. Di tengah peran Muti sebagai tulang punggung keluarga dan perjalanan keduanya dalam menghadapi fase pendewasaan, persahabatan mereka diuji. Bagi Muti dan Jenar, menjadi fangirl bukan sekadar hobi, melainkan ruang aman untuk bertahan dari berbagai persoalan hidup.

Sutradara Monica Vanesa Tedja (Mica) di konferensi pers serial "Night Shift For Cuties", Kamis, 4 Juni 2026. Foto: Netflix

Dalam konferensi pers yang digelar Kamis, 4 Juni 2026 di Jakarta, Mica mengungkapkan bahwa serial ini lahir dari keinginannya untuk mengeksplorasi dinamika persahabatan perempuan yang kerap dipandang rumit dari luar. "Kami mencoba menangkap cerita persahabatan perempuan yang bisa terlihat rumit dan seperti rollercoaster dengan pertengkaran dan cekcok, tapi di balik itu ada cinta dan rasa peduli," ujarnya dalam konferensi pers yang digelar Netflix.

Menurut Mica, ketertarikannya terhadap dunia fandom berawal dari pengalaman pribadinya melihat perubahan seorang teman yang sangat menggemari K-pop. "Saya berteman dengannya sebelum dia menemukan idol, dan setelahnya dia jadi berbeda sekali. Matanya berbinar, kepribadian dan cara dia berpenampilan berubah ke arah yang lebih baik, dan hidupnya lebih berwarna. Melihat transformasi ini saya jadi sangat tertarik untuk membahas ada apa di balik passion dan obsesi ini," katanya.

Fandom Sebagai Ruang Bertahan bagi Perempuan

Dalam pengembangannya, Night Shift for Cuties juga mengeksplorasi fenomena parasocial relationship, yakni hubungan emosional satu arah antara penggemar dengan idolanya. Dalam prosesnya Mica menyebut dirinya mendalami berbagai forum daring, termasuk Reddit, untuk memahami bagaimana penggemar memandang idola mereka. Ia pun menemukan bahwa bagi sebagian orang, hubungan tersebut melampaui sekadar hiburan.

Konsep ini kemudian menjadi fondasi dalam membangun karakter Muti dan Jenar. Muti digambarkan masih bergulat dengan kehilangan figur ayah dalam hidupnya, sementara Jenar hidup dengan rasa tidak aman yang membuatnya terus merasa tidak cukup. Pada keduanya, fandom hadir sebagai mekanisme bertahan hidup, cara untuk mengisi kekosongan emosional yang sulit ditemukan jawabannya di dunia nyata.

Menyoroti Tekanan terhadap Perempuan di Industri Idol

Selain mengangkat isu kesehatan emosional dan persahabatan perempuan, serial ini juga mencoba membicarakan berbagai tuntutan yang kerap dihadapi perempuan, khususnya dalam industri hiburan. Penulis naskah Aline Djayasukmana mengungkapkan bahwa keputusan menghadirkan girl group dalam cerita bukan tanpa alasan.

Penulis skenario Aline Djayasukmana di konferensi pers serial "Night Shift For Cuties", Kamis, 4 Juni 2026. Foto: Netflix

"Buat saya dunia K-pop ini menarik sekali, fandom terlihat sebagai sesuatu yang sangat magnetis, dan girl group adalah sesuatu yang dekat dengan kami. Perempuan menghadapi banyak sekali tantangan, ditambah adanya berbagai tuntutan ketika seseorang menjadi idol," ungkapnya.

Melalui serial ini, tim kreatif juga berusaha menghadirkan representasi yang lebih inklusif, termasuk mendobrak standar kecantikan konvensional yang selama ini identik dengan industri idol. "Kami mencoba mendobrak batasan dengan mengajukan gagasan bagaimana kalau pentolan sebuah grup adalah seseorang yang plus size, sesuatu yang tidak konvensional di industri," lanjut Aline.

Pilihan tersebut pun menjadi salah satu bentuk kritik tersendiri terhadap ekspektasi yang kerap dibebankan kepada perempuan untuk selalu memenuhi standar tertentu, baik dalam penampilan maupun peran sosial yang mereka jalani. Berbagai pandangandan nilai tersebut pun kemudian hadir dalam balutan visual dan kisah yang apik di serial Night Shift For Cuties dan kedelapan episodenya kini sudah bisa disaksikan di Netflix.

Pilihan Editor: Monica Vanesa Tedja Jelajah Dunia K-pop Lewat Serial Perdana Night Shift for Cuties

LANNY KUSUMASTUTI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |