Musikal Senja Teduh Pelita Soroti Krisis Lingkungan

1 week ago 22

JAKARTA Movin mengangkat kisah penuh harapan tentang isu lingkungan dalam pertunjukan terbarunya, Musikal Senja Teduh Pelita. Pementasan ini diadaptasi dari 20 lagu Maliq & D'Essentials dengan menggabungkan kekuatan musik, teater, dan pesan reflektif tentang masa depan Bumi.

Musikal Senja Teduh Pelita akan menghadirkan kisah emosional tentang keberanian, harapan, dan perjuangan generasi muda di tengah dunia yang berada di ambang kehancuran. Melalui cerita yang membayangkan masa depan ketika Bumi kehilangan keseimbangannya akibat keserakahan manusia dan berbagai krisis yang tak kunjung usai, pertunjukan ini menyoroti pentingnya melibatkan anak-anak dalam upaya menjaga lingkungan. Partisipasi generasi muda dipandang sebagai harapan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Bumi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Musikal science fiction futuristik ini ingin membawa penonton terhubung ke dimensi lain, yaitu masa depan. Mereka akan memperlihatkan ketika dunia tidak layak lagi untuk dihuni akibat krisis iklim dan ulah manusia. Dampak dari kerusakan ini mengakibatkan menurunnya populasi manusia, tanah subur, hingga air bersih menjadi langka, serta kehilangan begitu banyak orang dewasa.

Pemeran Musikal Senja Teduh Pelita

Di tengah kondisi dunia yang terus memburuk, penonton bisa melihat sosok anak-anak yang masih memiliki harapan. Anak-anak itu diperankan oleh Alf Elijah Sigalarki dan Daria Laksmi Algamar sebagai “Arah”, sang pemimpin Pasukan Pelita yang beranggotakan sembilan anak dengan kemampuan yang berbeda-beda untuk menyelamatkan bumi bagi masa depan.

Bersama delapan anggota Pasukan Pelita lainnya, Arah menjalani perjalanan panjang untuk mencari harapan baru. Mereka adalah Kala (di perankan oleh Xandrea Abigail Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo) sang ahli sejarah dunia, Volta (Sahlendra Syarief) yang menguasai listrik dan mekanika, Lanit (Mavisha Reakana) sang pembaca bintang, Hara (Emily Olivia) ahli tumbuhan, Palu (Nayaka Maleakhi) yang mahir membangun, Raga (Nadindra Gynta) si pemanjat andal, Binbin (J. Rizhan) yang memahami hewan, dan Lagu (Annabella Farizky) yang peka terhadap musik dan suara, Arah memimpin sebuah perjalanan untuk mencari harapan baru bagi dunia di masa depan.

Sebagai pemimpin Pasukan Pelita, Arah merupakan sosok anak yang tetap percaya pada kebaikan dan cinta, bahkan ketika dunia di sekelilingnya sudah berhenti untuk peduli. 

Perjalanan yang Menyimpan Banyak Harapan 

Di kehidupan yang tidak begitu mendukung, Arah dan teman-temannya terpaksa harus bertahan hidup sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Orang tua dari Arah dan yang lainnya berjanji akan kembali setelah mereka dapat memulihkan kondisi bumi menjadi lebih baik.

Alih-alih menunggu kepulangan serta berharap pada sebuah janji yang orang tuanya berikan, Arah malah merasakan penantian yang ditunggu itu tidak benar-benar menemukan kepastian. Hingga akhirnya, Pasukan Pelita memutuskan untuk memulai perjalanan mencari kehidupan yang lebih baik.

Arah dan teman-temannya mulai bergegas untuk melakukan perjalanan menuju Aurora, tempat yang mereka yakini sebagai tujuan dari perginya orang tua mereka. Bukan hal yang mudah juga bagi Pasukan Pelita untuk melakukan petualangan ini. Dalam perjalanan itu, ia menghadapi banyak sekali tantangan hingga akhirnya Arah dan pasukannya menemukan tempat aman dan penuh harapan. Tempat itu bernama Senja Teduh Pelita.

Harapan di Tengah Kehancuran

Penulis serta sutradara Nuya Sutanto mengungkapkan bahwa cerita tersebut memang menyinggung persoalan lingkungan hingga dampak sosial-politik yang dirasakan manusia di masa depan.

"Ada sedikit menyinggung isu lingkungan, ada sedikit menyinggung politik. Tapi bagaimana itu mempengaruhi kehidupan kita sebagai manusia ya, bukan sebagai warga negara," kata Nuya dalam konferensi pers di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurutnya, cerita dalam musikal ini berlangsung pada masa ketika konsep negara sudah tidak lagi eksis. "Karena nanti ketika cerita ini berjalan, ceritanya negara tuh udah enggak ada government system, itu udah sesuatu yang runtuh," ujarnya.

Nuya juga mengatakan bahwa keresahan terbesar dalam cerita ini adalah dampak dari tindakan manusia saat ini terhadap kehidupan generasi mendatang. "Yang paling dikhawatirkan adalah apa yang kita lakukan hari ini dan dampaknya pada 100 tahun, 200 tahun ke depan, bagaimana anak cucu kita akan hidup dari tindakan-tindakan yang kita lakukan hari ini," katanya.

Oleh karena itu, Jakarta Movin berinisiatif untuk menyadarkan serta mengajak penonton dan masyarakat luas lainnya untuk peduli pada pengelolaan sampah hingga keberlanjutan lingkungan yang menjadi bagian penting bagi kehidupan yang akan datang. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |