Di deretan meja berkaca di tengah Galeri Salihara berjejer karya-karya yang cukup menarik perhatian. Pada meja itu sedertan karya unik, lucu, dengan judul yang diawali dengan kata hantu. Lihatlah karya “Hantu Kuliner”, “Hantu Atlet”, “Hantu Kuda Nangis”, “Hantu Wajah Runcing”, “Hantu Srenggi”, “Hantu Erotis”, “Hantu Pinjol” atau “Hantu Liuk” dan beberapa hantu lain yang disatukan dalam sub tema berjudul “Kitab Hantu 2”. Menariknya di bawah karya dengan tinta di atas kertas ini, dituliskan serangkaian teks.
Seperti pada karya berjudul "Hantu Liuk" yang visualnya memperlihatkan sesuatu yang meliuk, penampakannya mengingatkan pada film kartun Casper, si hantu kecil. Di bawah karya tertulis,”Tak ada yang tahu kenapa tiap malam Rabu tubuh hantu ini meliuk-liuk dretaseperti ulat bulu. Diduga ia menderita syaraf kejepit. Anda percaya?”. Karya-karya yang lain pun dibubuhi dengan teks yang menggiring pengunjung tersenyum atau berpikir tentang sesuatu tentang sesuatu yang mengemuka hari-hari belakangan ini .
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Seniman Goenawan Mohamad mengamati karya dalam pameran Teks, Gambar, Kitab di Komunitas Salihara Arts Center, Pasar Minggu, 23 Mei 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi
Begitulah beberapa karya Goenawan Mohamad yang tengah dipamerkan di Galeri Salihara mulai 24 Mei hingga 28 Juni 2026 dalam pameran tunggal berjudul “Teks, Gambar, Kitab: Pameran Tunggal Goenawan Mohamad”. Sederetan karya ini merupakan sedikit dari 80-an drawing, sketsa, dari Goenawan. Karya-karya monokrom Goenawan Mohamad dibuat dengan beragam medium dengan tinta, pena di kertas, cetak saring di berbagai jenis kertas, litografi di atas kertas, cetak gum oil dan media campuran di kertas kartun dan etsa di atas kertas. Pembukaan pameran dibuka oleh Seniman Tisna Sanjaya, dihadiri ratusan hadirin termasuk Boediono, Wakil Presiden RI ke-11.
Saat membuka pameran, Tisna Sanjaya mengatakan melihat karya-karya Goenawan Mohamad tidak berhenti sebagai ekspresi personal, melainkan berkembang menjadi ruang kebudayaan yang lebih luas. “Dari karya-karya ekspresi personalnya yang sangat personal, metafor, simponik, saya lihat dilebarkan menjadi peristiwa kebudayaan, menjadi peristiwa kritis terhadap berbagai hal, persoalan politik, persoalan perilaku beragama, persoalan ekonomi, dan persoalan lingkungan hidup,” ujar Tisna Sanjaya pada 23 Mei 2026. Tisna juga menceritakan sekelumit kisah kedekatannya dengan Goenawan ketika represi berlangsung di masa Orde Baru, ketika pembredelan Tempo, Editor dan Tabloid Detik pada 1994.
Narasi Visual dalam Kitab
Goenawan juga mengelompokkan karya-karyanya dalam sub tema kitab seperti “Kitab Hantu 1” yang terdiri dari 15 karya, Kitab Hewan” juga berisi 15 karya, “Kitab Kurawa” dengan 9 karya dengan visual sosok wayang, “Kitab Hantu 2” dengan 12 karya. Jumlah karya yang sedemikian banyak beragam ukuran, termasuk beberapa karya etsa yang cukup besar memperlihatkan produktivitas GM, panggilan Goenawan Mohamad. Tak hanya narasi visual namun juga narasi teks.
Seperti halnya di “Kitab Hantu 2”, “Kitab Hantu 1” memperlihatkan karya dengan narasi perhantuan ‘nusantara’ seperti karya berjudul “Sundel Bolong”, “Pocong”, “Glundung Pringis”, “Hantu Samar”, “Hantu Blenduk””, Hantu Eks Singapura”, ”Hantu Over-acting”, “Hantu Rapopo”, “Jim Isin” dan lainnya. sementara pada Kitab Hewan digambarkan beragam visual dari intaglio di atas kertas berupa binatang atau yang terkait dengan hewan, seperti ikan, anjing, kera, ular, kucing, tikus, penombak. Ada pula litografi di atas kertas. Pada “Kitab Kurawa” ditampilkan karya beberapa tokoh pewayangan seperti Yudistira, Durna, Karna, Kresna, Kunti, Gendari, Bhisma dan sebagainya.
Kurator Galeri Komunitas Salihara, Asikin Hasan, dalam catatan kuratorialnya mengatakan gambar dan tulisan dalam karya GM “saling berbagi ruang untuk berada di tempat yang sama.” Namun, menurutnya, gambar-gambar itu tidak selalu dijelaskan oleh tulisan, demikian pula tulisan bukan penjelasan bagi gambar. Keduanya hadir di dunia merdekanya masing-masing. Pameran ini juga mengajak pengunjung diajak mengenal GM sebagai perupa yang bekerja melalui drawing, grafis, lukisan, dan teks.
Karya-karya Goenawan Mohamad dalam pameran Teks, Gambar, Kitab di Komunitas Salihara Arts Center, Pasar Minggu, 23 Mei 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi
Di atas kertas dan kanvas, GM menggambar, membuat grafis, melukis, sekaligus menulis. Dalam karya-karyanya, teks dan gambar hadir berdampingan, tetapi tidak saling menjelaskan secara langsung. “Keduanya berbagi ruang, bergerak dalam dunia masing-masing, dan membuka kemungkinan tafsir yang tidak tunggal,” kata Asikin saat pembukaan pameran 23 Mei 2026 di Galeri Salihara.
Menurut Asikin, salah satu gagasan penting dalam pameran ini adalah “kitab”. Dalam karya GM, kata dia, kitab tidak dipahami sebagai sesuatu yang selesai, utuh, dan tertutup. Kitab justru hadir sebagai ruang yang terus terbuka bagi berbagai kemungkinan bentuk, cerita, dan tafsir.
“Yang menarik perhatian saya adalah gagasan pembuatan kitab, dan itu tidak hanya satu. Ada kitab ini, kitab itu, dan apalagi. Teks dan gambar saling mengambil tempat dan posisi. Ada yang dibangun, tapi juga ada ruang-ruang yang dibiarkan terbuka seperti tidak selesai sebagai apa yang kita pahami sebagai buku atau kitab umumnya,”ujar Asikin.
Pameran seni ini juga untuk menyambut ulang tahun GM yang ke-85 pada Juli mendatang. Pameran tunggal kali ini merupakan pameran tunggal pertama di ‘rumah sendiri’ di Galeri Salihara. GM dalam beberapa tahun terakhir ini cukup aktif menggelar pameran tunggal dan mengikuti pameran bersama di berbagai galeri di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Bali.

















































