HERE Technologies menilai aplikasi navigasi yang saat ini banyak digunakan di Asia Tenggara belum sepenuhnya memahami kebutuhan pengendara motor. Perusahaan teknologi itu menyebut sebagian besar aplikasi navigasi dirancang dengan fokus utama pada mobil dan baru sebagian yang menyesuaikan sistemnya untuk kendaraan roda dua.
General Manager for Southeast Asia and India HERE Technologies Abhijit Sengupta mengatakan pengendara motor di Indonesia umumnya mengandalkan aplikasi navigasi berbasis ponsel yang terintegrasi dengan platform ride-hailing dan layanan pesan-antar, selain aplikasi navigasi mandiri.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Meskipun aplikasi navigasi sudah banyak digunakan di Asia Tenggara, banyak di antaranya dirancang dengan fokus pada mobil dan hanya sebagian dari aplikasi tersebut yang menyesuaikan sistemnya untuk kendaraan roda dua,” kata dia kepada Tempo, Sabtu, 23 Mei 2026.
Menurut Sengupta, kebutuhan terhadap sistem navigasi yang dirancang khusus untuk kendaraan roda dua kini terus meningkat, terutama di pasar seperti Indonesia yang memiliki jumlah pengguna sepeda motor sangat besar.
HERE pun melihat peluang untuk bekerja sama dengan berbagai mitra dan pembuat kebijakan guna meningkatkan kualitas layanan navigasi roda dua. Kerja sama itu mencakup penyediaan data yang lebih akurat, logika penentuan rute yang lebih baik, hingga kecerdasan lokasi yang lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.
Dalam studi terbaru HERE Technologies bertajuk “Inside the Two-Wheeler Landscape in APAC: Key Trends and Rider Behaviors”, perusahaan juga menemukan adanya perbedaan perilaku pengendara motor antara Jakarta dan kota lain di Indonesia.
Sengupta mengatakan Jakarta memiliki tingkat kepadatan lalu lintas yang jauh lebih tinggi dibandingkan kota lain. Namun, ibu kota juga memiliki jalur khusus sepeda motor yang ditandai jelas di sejumlah jalan arteri utama.
“Jalur ini memungkinkan kendaraan roda dua untuk bergerak lebih leluasa dengan kecepatan yang relatif lebih tinggi, tanpa sepenuhnya berbaur dengan mobil, truk, atau bus,” tuturnya.
Menurut Sengupta, kondisi tersebut menciptakan dinamika lalu lintas yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Indonesia, di mana kendaraan roda dua cenderung lebih berbaur dengan kendaraan lain. Akibatnya, pola pergerakan menjadi lebih sulit diprediksi dan arus lalu lintas secara keseluruhan lebih lambat.
“Perbedaan ini semakin menegaskan pentingnya data dan model yang disesuaikan secara lokal. Dengan begitu, kami dapat meningkatkan akurasi rute dan kinerja navigasi secara keseluruhan.”
















































