MATAHARI tepat di atas Kabah di Mekah, Arab Saudi, terjadi pada 27-29 Mei 2026. Fenomena ini dirasa istimewa karena bersamaan dengan puncak ritual ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha.
“Ada keistimewaan haji tahun ini saat tengah hari di Mekah sekitar pukul 12.18 waktu setempat posisi matahari berada di zenith, ketinggian 90 derajat atau tepat di atas kepala,” ujar profesor riset astronomi dan astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, kepada Tempo pada Selasa 26 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Thomas mengatakan peristiwa matahari tepat di atas Kabah saat tengah hari sejatinya merupakan fenomena yang berulang secara tahunan. Adapun waktu ritual ibadah haji berdasarkan kalender Islam atau Hijriah yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.
Bersamaan dengan fenomena hari tanpa bayangan di Mekah itu, Thomas menerangkan, di wilayah yang mengalami siang bersama Mekah akan melihat matahari pada arah kiblat. Bagi umat muslim di seluruh dunia, kiblat merupakan arah menghadap untuk melaksanakan salat dan ibadah lain yang merujuk pada lokasi Kabah.
“Arah bayangan dari benda tegak saat matahari di atas Kabah itu bisa jadi petunjuk arah kiblat,” ujarnya. Peristiwa itu, Thomas menambahkan, kesempatan untuk kalibrasi atau menyempurnakan arah kiblat seperti di masjid atau musala.
Kalibrasi Arah Kiblat dan Caranya
Waktunya mulai dari Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah atau 27 Mei 2026 dan belum akan bergeser jauh hingga 29 Mei. Waktu pengukuran selama tiga hari itu bisa dilakukan pada pukul 16.13 - 16.23 WIB atau 17.13 – 17.23 WITA.
Untuk wilayah Indonesia bagian barat dan tengah, pengukuran bisa dilakukan pada waktu lain yaitu sekitar pertengahan Juli. Sedangkan wilayah Indonesia timur (WIT) waktunya berbeda lagi baik jam maupun tanggalnya yaitu pada Januari dan Desember.
Keterangan senada disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG. Ditambahkannya, waktu puncak matahari tepat di atas Kabah itu pada sore hari yaitu pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA.
Peralatan yang dibutuhkan untuk pengukuran arah kiblat itu adalah tongkat, jam yang presisi, serta kompas atau global positioning system (GPS). Langkah pertama yaitu pengukur menyesuaikan waktu dengan jam BMKG. Kemudian menyiapkan alat seperti tongkat, atau benda lain seperti bandul, tiang, atau dinding bangunan asalkan posisinya tegak lurus.
Menurut BMKG, beberapa syarat untuk pengamatan itu adalah cuaca cerah dan tidak berawan, pengukuran berada pada bidang yang datar, dan bebas dari bayangan benda lain. Pengukuran sudah bisa dimulai 5 menit sebelum waktu puncak, kemudian perhatikan arah bayangan. Tarik garis dari ujung bayangan hingga posisi alat. Garis itu adalah arah kiblat.
















































