KREATOR konten dan pakar akal imitasi atau AI, Abil Sudarman, membuat dasbor untuk mendeteksi dan memberikan peringatan dini atau dashboard early warning system tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah menggunakan akal imitasi. Dasbor itu digunakan untuk melacak pengadaan barang dan jasa pemerintah yang kontroversial.
Abil mengatakan ide awal membuat sistem pemantauan pengadaan barang berbasis AI ini muncul ketika ramai pemberitaan mengenai pengadaan barang dan jsa pemerintah yang viral di media sosial, di awal April 2026. Misalnya, pengadaan mobil dinas Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud merek Range Rover senilai Rp 8,5 miliar dan pengadaan meja biliar senilai Rp 486,9 juta di rumah dinas pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Selatan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Bagaimana memunculkan atau membuat pengadaan yang tidak menimbulkan polemik publik, ya? Nah, akhirnya saya kepikiran kenapa enggak pakai AI saja. Jadi, AI yang deteksi apakah pengadaan tersebut pantas diadakan atau tidak,” kata Abil kepada Tempo, Jumat, 17 April 2026.
Sistem pemantauan itu terintegrasi dengan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan atau SiRUP pada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). SiRUP LKPP adalah data pemerintah tentang pengadaan barang dan jasa yang dimandatkan untuk dibagikan ke publik dan dapat diunduh. Untuk mengintegrasikannya dengan AI, Abil membuat model sistem akal imitasinya.
“Saya buat AI model ini dengan menganalisa pengadaan yang sudah ada tahun anggaran 2024 di SiRUP ini. Di dataset-nya saya publish juga ke GitHub, namanya source code-nya," katanya.
Dengan cara itu, kata Abil, semua orang dapat mengunduh suatu proyek pengadaan barang dan jasa sebagai langkah antisipasi ketika suatu saat pengelola data itu menurunkan atau melakukan take-down di SIRUP.
Abil mengatakan, sistem ini menggunakan AI Large Language Models (LLMs), atau secara spesifik GPT 5.4. Melalui sistem ini, akal imitasi bakal mengecek satu per satu item pengadaan barang dan jasa yang berjumlah 3 juta item di LKPP.
Menurut Abil, sistem ini sebetulnya dapat membantu pemerintah untuk memantau pengadaan barang dan jasa. “Sebenarnya sistem AI ini bukan untuk saya melawan pemerintah. Justru sistem AI ini untuk digunakan pemerintah mencegah pengadaan-pengadaan yang aneh, pengadaan yang enggak pantas untuk ke luar ke publik,” ujarnya.
Ia berharap sistem pemantauan ini bisa digunakan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Keuangan, untuk memantau pengadaan yang tidak terlacak. Sehingga Kementerian Keuangan bisa mencegah pengadaan barang dan jasa yang janggal dan tidak masuk akal.
“Tapi, akurasi sistem ini masih dipertanyakan, masih perlu pengembangan. Perlu pengembangan lanjutan yang dibantu oleh komunitas IT, atau kalau pemerintah punya dana, mereka bisa menggelontorkan juga,” ujar Abil.
Ia mengatakan pemerintah dapat mengembangkan sistem ini secara akurat dengan cara menyelaraskan pada portal Indonesia Procurement (INAPROC) dan INA Digital. INAPROC adalah portal pengadaan nasional yang dikelola oleh LKPP. INA Digital atau GovTech Indonesia adalah lembaga penyelenggara keterpaduan ekosistem layanan digital.
“Harapan saya justru ini digunakan pemerintah, bukan untuk kontra pemerintah. Itu kan bagian dari check and balance kita sebagai warga sipil, sebagai konten kreator,” ujarnya.
Dalam akun Instagram @abilsudarman, Abil mengunggah beberapa video reels, fitur di Instagram untuk membuat dan berbagi konten video pendek vertikal. Video pendek itu memperlihatkan cara kerja dasbor sistem peringatan dini buatannya dalam memantau pengadaan barang dan jasa di seluruh Indonesia.
“Gua sudah bikin beberapa video terkait pengadaan-pengadaan aneh yang kami temukan. Ini pake AI, ya. Semua dianalisa pake AI, nanti kalian bisa buka,” kata Abil dalam video reels yang diunggah pada Kamis, 16 April 2026. “Dan per video ini di-upload, seharusnya proyek ini sudah selesai dan akses untuk ke proyek ini, source code-nya, dan AI model-nya sudah dimiliki oleh para peneliti AI di seluruh Indonesia.”
Abil mengatakan akses dan kuncinya sudah diserahkan ke para peneliti universitas dan peneliti AI di Indonesia. Ia pun mempersilakan publik melanjutkan perjuangan untuk mendorong transparansi anggaran pemerintah. “Saya titipkan ini semua kepada kalian, dan mari kita akhiri semua pesta-pesta ini,” ujarnya.


















































