TEMPO.CO, Jakarta - Militer Cina melakukan latihan berskala besar di perairan sekitar Taiwan selama dua hari Selasa dan Rabu, 1-2 April 2025. Latihan gabungan tersebut melibatkan pasukan angkatan laut, udara, darat dan roket. Juru bicara Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat Shi Yi mengatakan latihan militer itu bertujuan memberi peringatan keras terhadap Taiwan yang ingin merdeka.
Cina menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Cina ingin menguasai Taiwan bila perlu dengan kekerasan. Rakyat Taiwan pun terbelah, antara yang ingin merdeka atau bergabung kembali dengan Cina.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan mengatakan telah melacak 19 kapal angkatan laut China di perairan sekitar pulau itu dalam periode 24 jam dari pukul 6 pagi hari Senin hingga pukul 6 pagi hari Selasa. Dikutip dari TRT, Taiwan telah melacak pergerakan kapal induk Shandong sejak Sabtu. Kelompok kapal induk tersebut telah memasuki zona identifikasi Taiwan, area yang ditentukan sendiri dan dilacak oleh militer.
“Saya ingin mengatakan tindakan ini secara jelas mencerminkan hancurnya perdamaian dan stabilitas regional,” kata Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo. Taiwan telah membentuk kelompok respons pusat untuk memantau latihan terkini.
Penjaga Pantai Cina juga mengumumkan melakukan patroli pada Selasa di sekitar Taiwan, menurut juru bicaranya Zhu Anqin. Latihan tersebut dilakukan hanya dua minggu setelah latihan berskala besar pada pertengahan Maret.
Di hari kedua, Rabu, 2 April 2025, CIna kembali mengadakan latihan perang. “Latihan difokuskan pada subjek identifikasi dan verifikasi, peringatan dan pengusiran, serta intersepsi dan penahanan untuk menguji kemampuan pasukan dalam pengaturan dan pengendalian wilayah, blokade dan pengendalian bersama, serta serangan presisi terhadap target-target utama,” kata Kolonel Senior Shi Yi, juru bicara Komando Teater Timur, dalam sebuah pernyataan, Rabu, 2 April 2025 yang dilansir dari Japan Times.
Hari kedua latihan diadakan setelah Cina mengkritik Presiden Taiwan Lai Ching-te dan memperingatkan bahwa upaya menuju kemerdekaan berarti perang.
Amerika Serikat mengecam latihan perang Cina. Departemen Luar Negeri menegaskan kembali dukungan AS terhadap Taiwan, yang disebut sebagai mitra. "Sekali lagi, aktivitas militer agresif dan retorika Tiongkok terhadap Taiwan hanya akan memperburuk ketegangan dan membahayakan keamanan kawasan serta kemakmuran dunia," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Tammy Bruce dalam sebuah pernyataan.
"Dalam menghadapi taktik intimidasi dan perilaku destabilisasi Cina, komitmen abadi Amerika Serikat terhadap sekutu dan mitra kami, termasuk Taiwan, terus berlanjut," ujar Bruce menambahkan. "Amerika Serikat mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan menentang perubahan sepihak terhadap status quo, termasuk melalui kekerasan atau paksaan."