Benarkah Sering Bercinta Bisa Cegah Menopause Dini? Intip Faktanya

6 hours ago 4

CANTIKA.COM, Jakarta - Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan yang menandai berakhirnya masa reproduksi. Umumnya, menopause terjadi pada usia akhir 40-an hingga awal 50-an. Namun, waktu terjadinya menopause bisa berbeda pada setiap perempuan karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti genetik, gaya hidup, kondisi kesehatan, hingga perubahan hormonal. Sehingga perempuan juga potensi mengalami menopause dini.

Sebuah penelitian menemukan bahwa bercinta secara rutin berpotensi berkaitan dengan risiko menopause dini yang lebih rendah. Studi tersebut menunjukkan perempuan yang melakukan aktivitas seksual setidaknya sebulan sekali cenderung memiliki peluang lebih kecil mengalami menopause lebih cepat dibandingkan mereka yang jarang berhubungan intim.

Aktivitas Seksual dan Kemungkinan Menopause Lebih Lambat

Penelitian yang melibatkan sekitar 3.000 perempuan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka yang aktif secara seksual setiap minggu atau lebih sering memiliki kemungkinan sekitar 28 persen lebih kecil mengalami menopause lebih cepat dibandingkan perempuan yang berhubungan intim kurang dari sekali dalam sebulan. Aktivitas seksual yang dimaksud tidak terbatas pada hubungan penetratif, tetapi juga mencakup seks oral, sentuhan intim, maupun stimulasi diri.

Para peneliti menyebut fenomena ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “pertukaran energi biologis”. Ketika tubuh menilai kemungkinan kehamilan relatif rendah, energi yang biasanya digunakan untuk proses ovulasi dapat dialihkan ke fungsi lain, seperti menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Menurut peneliti Megan Arnot dari University College London, jika peluang kehamilan dinilai kecil, tubuh kemungkinan tidak memprioritaskan proses ovulasi karena dianggap tidak lagi memiliki fungsi reproduktif yang optimal. Hal ini menunjukkan bahwa sistem reproduksi perempuan dapat merespons kondisi biologis dan lingkungan.

Faktor Evolusi dan Perlindungan Kesehatan

Penelitian juga mengaitkan menopause dengan proses adaptasi evolusi. Salah satu teorinya menyebut bahwa menopause berkembang untuk mengurangi konflik reproduksi antargenerasi serta memungkinkan perempuan yang lebih tua berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan keluarga, termasuk membantu merawat keturunan.

Selain itu, selama masa ovulasi, sistem kekebalan tubuh perempuan cenderung sedikit menurun. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, ketika peluang reproduksi dinilai rendah, tubuh dapat mengalihkan energi untuk mempertahankan kesehatan jangka panjang.

Menopause Tetap Proses Alami

Para ahli menekankan bahwa menopause tetap merupakan fase biologis yang pasti terjadi pada setiap perempuan. Tidak ada intervensi yang dapat sepenuhnya mencegah proses berhentinya fungsi reproduksi tersebut. Meski demikian, penelitian ini memberikan gambaran bahwa waktu terjadinya menopause dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kemungkinan kehamilan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Open Science ini menggunakan data dari Study of Women’s Health Across the Nation di Amerika Serikat. Temuan tersebut memberikan perspektif baru bahwa gaya hidup, termasuk aktivitas seksual, dapat berkaitan dengan dinamika kesehatan reproduksi perempuan.

Meski demikian, menjaga kesehatan secara menyeluruh tetap menjadi faktor utama untuk mendukung kualitas hidup menjelang menopause, seperti menerapkan pola makan seimbang, rutin berolahraga, mengelola stres, serta menjaga hubungan emosional yang sehat.

Pilihan Editor: Benarkah Menopause di Bawah Usia 40 Tahun Rentan Gagal Jantung? Simak Faktanya

ECKA PRAMITA | TEMPO.CO | ANTARA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |